Kemenangan atas Aberdeen di Pittodrie akhir pekan lalu menjadi titik balik yang diharapkan Derek McInnes untuk mengangkat performa Rangers. Gol penalti Lawrence Shankland di babak kedua memastikan tiga poin penting bagi tim asal Glasgow itu, meski permainan yang ditampilkan masih jauh dari kata meyakinkan. Namun, bagi McInnes, hasil ini bisa menjadi fondasi awal untuk membangun masa depannya di Ibrox.
Tekanan terhadap McInnes meningkat tajam menyusul rentetan hasil buruk yang membuat timnya hanya meraih dua kemenangan dalam tujuh pertandingan. Lebih parah lagi, Rangers tersingkir dari kompetisi Eropa sebelum akhir Agustus setelah dikalahkan Jablonec. Kekalahan itu membuat posisi McInnes, yang menganggap pekerjaan di Rangers sebagai pekerjaan impian, berada dalam bahaya besar.
Kemenangan yang Membangun Fondasi di Pittodrie
McInnes mengaku untuk pertama kalinya musim ini ia benar-benar menikmati melihat permainan timnya, meskipun penampilan Rangers di Pittodrie tidak bisa dibilang gemilang. “Perasaan yang kontras dari Kamis malam,” ujarnya. “Ini beberapa hari yang berat bagi kami semua. Saya pikir hari ini kami jauh lebih seperti tim Rangers yang saya inginkan.”
“Mungkin untuk pertama kalinya musim ini, saya benar-benar menikmati menonton tim ini,” tambah sang manajer. “Ada momen-momen menyenangkan, beberapa kemenangan dan rangkaian permainan, tetapi kami tahu ketika datang ke sini, Anda tidak bisa tampil gemilang selama 90 menit penuh. Anda perlu bersaing dan menghadirkan kualitas, dan saya pikir kami melakukan semua itu.”
Kemenangan ini diraih lewat gol penalti Lawrence Shankland pada babak kedua, setelah sebelumnya Rangers kesulitan menembus pertahanan Aberdeen. Meski penampilan timnya jauh dari kata sempurna, McInnes menegaskan bahwa ia akan menerima kemenangan apa pun setelah kegagalan di Liga Conference. Ia juga menilai tiga poin ini akan sangat bermanfaat bagi kepercayaan diri para pemain.
Tekanan Besar yang Mengguncang Posisi McInnes
Perjalanan McInnes ke Pittodrie terasa sangat emosional karena ia pernah menghabiskan delapan tahun sebagai manajer Aberdeen sebelum pindah ke Rangers. Kedatangan timnya ke stadion yang dulu menjadi markasnya itu terjadi di tengah spekulasi masa depannya yang semakin memanas. Dengan hanya dua kemenangan dalam tujuh laga dan tersingkir dari Eropa, pekerjaan impian McInnes di Ibrox nyaris berubah menjadi mimpi buruk.
Kekalahan dari Jablonec di babak kualifikasi Conference League menjadi pukulan telak yang memicu semakin derasnya kritik terhadap McInnes. Mantan striker Celtic, Chris Sutton, bahkan menggambarkan penampilan Rangers sebagai “penampilan yang acak-acakan” atau bitty performance. Meski begitu, Sutton juga mempertanyakan apakah hasil ini bisa menjadi titik balik bagi McInnes.
Respons Pundit soal Titik Balik McInnes
Mantan striker Rangers, Kris Boyd, menanggapi kemenangan tersebut dengan lebih hati-hati. Ia mengatakan tidak akan “terbawa perasaan” meski meraih tiga poin adalah prioritas utama bagi mantan klubnya. “Rangers datang ke sini dan mendapatkan tiga poin — itu hal yang paling penting,” ujar Boyd di Sky Sports.
Pernyataan Boyd sejalan dengan apa yang dirasakan McInnes, yang mengaku akan “menerima kemenangan apa pun” setelah kekalahan memalukan dari Jablonec. McInnes juga menekankan bahwa langkah kecil dalam hal poin dan performa akan sangat berarti bagi skuadnya. Ia mengingatkan bahwa musim lalu Rangers sempat tertinggal jauh namun tetap mampu kembali bersaing dalam perebutan gelar juara.
Kim Min-su Bersinar di Laga Debut
Salah satu sorotan positif dari kemenangan ini adalah penampilan impresif Kim Min-su, pemain asal Korea Selatan berusia 20 tahun yang baru menjalani satu sesi latihan bersama rekan-rekan barunya. McInnes secara khusus memuji Kim yang langsung tampil menonjol di laga debutnya melawan Aberdeen. Bersama Djeidi Gassama, Kim menjadi pemain penyerang terbaik Rangers dalam performa tim yang kurang berkualitas dalam penguasaan bola.
McInnes mengungkapkan bahwa ia harus bersabar untuk mendapatkan pemain anyar yang dilaporkan berharga 8,5 juta poundsterling ini. Ia menyebut Kim memberikan “kualitas yang sangat dibutuhkan” bagi lini serang Rangers. Kehadiran Kim menjadi harapan baru di tengah cedera jangka panjang yang dialami Youssef Chermiti.
Masalah Skuad dan Rencana Transfer
Meski Kim tampil menjanjikan, Boyd masih mempertanyakan kebijakan rekrutmen Rangers dan keputusan untuk kembali tidak memainkan Nicolas Raskin. Gelandang asal Belgia itu absen di tengah kabar soal masa depannya, namun McInnes menegaskan belum ada tawaran yang masuk untuk sang pemain. Boyd dengan tegas menyatakan bahwa jika tidak ada tawaran untuk Raskin, maka ia harus dimainkan karena merupakan gelandang terbaik Rangers.
Kritik Boyd terhadap manajemen skuad Rangers cukup tajam dan menyoroti sejumlah persoalan. Ia menilai klub terlalu banyak menampung pemain sehingga tidak berkelanjutan. Berikut poin-poin kritik yang disampaikan Boyd:
- Skuad yang terlalu gemuk dengan lebih dari 30 pemain dinilai tidak berkelanjutan.
- Rangers perlu melepas setidaknya lima hingga tujuh pemain sebelum bursa transfer ditutup.
- Tim masih kekurangan pemain kreatif yang bisa menghubungkan lini tengah dan menjadi pengatur serangan.
Sementara itu, McInnes enggan menyebut nama spesifik, tetapi klub dikabarkan sedang mengejar Kevin Kelsy dari Portland Timbers sebagai tambahan di lini depan. Langkah ini diambil untuk merespons cedera jangka panjang Youssef Chermiti yang memaksa Rangers bergerak cepat di bursa transfer. McInnes berharap target tersebut bisa didatangkan sebelum laga tandang melawan Falkirk.
Kemenangan di Pittodrie memang belum cukup untuk membuktikan bahwa era McInnes di Rangers akan berjalan mulus. Namun, hasil ini memberi ruang napas di tengah tekanan besar, dengan debut impresif Kim Min-su dan rencana transfer yang terus berjalan menjadi modal tambahan. Apakah ini benar-benar titik balik bagi McInnes? Hanya pertandingan-pertandingan berikutnya yang bisa menjawabnya.
