Ketua Football Association (FA) Debbie Hewitt mengirim surat resmi kepada Presiden FIFA Gianni Infantino yang menuntut agar seluruh dokumen terkait rencana kontroversial penjualan sebagian saham Piala Dunia dibuka ke publik. Hewitt, yang juga menjabat sebagai wakil presiden FIFA, tidak berhenti pada isu tersebut; ia meminta agar Dewan FIFA menerima penjelasan tertulis atas pembatalan sanksi penangguhan bagi penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, di ajang Piala Dunia. Surat itu turut dialamatkan kepada Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafstrom.
Langkah ini menandai babak baru tekanan terhadap Infantino, yang belakangan terus disorot karena proposal FIFA Forward Enterprise (FFE). Surat tersebut memuat tuduhan adanya kegagalan tata kelola sekaligus kemerosotan budaya kerja di dalam badan pengatur sepak bola dunia itu. Hewitt menegaskan semua dokumen mesti tersedia sebelum rapat Dewan FIFA berikutnya pada 15 Oktober, supaya para pengambil keputusan bisa menilai sendiri dasar dan proses di balik kebijakan yang menuai polemik tersebut.
Isi Surat: Semua Dokumen Harus Dibuka
Dalam suratnya, Hewitt secara eksplisit mendesak Infantino merilis seluruh berkas yang berkaitan dengan rencana menjual sebagian saham Piala Dunia. Permintaan itu bukan sekadar soal keterbukaan administratif, melainkan bentuk desakan agar FIFA menjelaskan dasar pengambilan keputusan yang selama ini berjalan tertutup. Menurut isi surat tersebut, penjelasan itu wajib diterima langsung oleh Dewan FIFA sebagai organ pengawas, bukan hanya beredar di lingkaran internal kepemimpinan.
Hewitt juga menyoroti kasus Balogun sebagai persoalan yang tidak bisa dilepaskan dari isu tata kelola. Ia menilai Dewan FIFA berhak mendapatkan alasan tertulis mengapa hukuman yang seharusnya dijalani pemain tersebut justru dibatalkan. Tanpa penjelasan resmi, kata dia, muncul kesan bahwa keputusan penting di FIFA diambil berdasarkan pertimbangan di luar aturan yang berlaku.
Surat yang juga dikirim kepada Mattias Grafstrom itu memakai bahasa keras. Isinya menuding FIFA mengalami kegagalan dalam menjalankan prinsip tata kelola yang baik dan mengalami kerusakan budaya organisasi. Dengan nada tersebut, Hewitt praktis menempatkan dirinya sebagai salah satu pejabat internal paling vokal yang mempertanyakan kepemimpinan Infantino.
Kronologi Kontroversi FIFA Forward Enterprise
FIFA Forward Enterprise adalah rencana yang sempat membuat geger dunia sepak bola. Lewat skema ini, FIFA hendak membentuk perusahaan baru yang mengelola hak komersial dan penjualan tiket untuk seluruh kompetisi, termasuk Piala Dunia. Dari perusahaan tersebut, sebanyak 21 persen saham akan dijual kepada sebuah perusahaan investasi swasta.
Gagasan itu akhirnya dibatalkan setelah mendapat penolakan luas dari asosiasi nasional di berbagai belahan dunia. Penolakan tersebut bukan hanya soal angka, tetapi juga soal prinsip: banyak federasi menilai Piala Dunia sebagai aset publik sepak bola yang tidak semestinya diperdagangkan ke pihak swasta. Rencana ini pertama kali mencuat ke publik melalui pemberitaan media hanya beberapa hari setelah final Piala Dunia digelar.
Dalam suratnya, Hewitt menambahkan satu tuntutan penting: perlunya tinjauan independen atas bagaimana FFE dicetuskan, siapa yang menggagasnya, dan bagaimana proses lelang bagi investor swasta itu dijalankan. Permintaan ini menyiratkan kekhawatiran bahwa proposal sebesar itu lahir tanpa pembahasan yang memadai di forum-forum resmi FIFA. Tanpa audit independen, menurut surat tersebut, publik tidak akan pernah tahu sejauh mana prosedur dilanggar dalam penyusunan skema tersebut.
Ketegangan dengan UEFA dan Retakan di Internal FIFA
Bukan hanya FA yang bergerak. Pada bulan sebelumnya, UEFA mulai menyiapkan proses hukum pidana terhadap Infantino di tiga pengadilan di Amerika Serikat terkait rencana FFE. UEFA juga menuntut pembukaan seluruh dokumen yang berkaitan dengan proposal tersebut. Langkah hukum itu menandai eskalasi konflik dari perdebatan internal menjadi sengketa di ranah pengadilan.
FIFA merespons dengan tajam. Mereka menuduh UEFA melancarkan “kampanye pencemaran nama baik terhadap FIFA dan kepemimpinannya” sebagai bentuk tantangan atas gugatan yang sedang disiapkan. Bantahan itu menunjukkan bahwa pihak Infantino memilih jalur konfrontatif alih-alih membuka berkas yang diminta.
Ketegangan ini diperparah oleh surat terbuka yang dikeluarkan UEFA, Concacaf, dan Konfederasi Sepak Bola Asia pada bulan sebelumnya. Ketiga konfederasi itu menuduh FIFA dan Infantino melanggar kepercayaan “melalui penipuan”. Tuduhan semacam itu jarang muncul dari konfederasi besar, dan menandakan bahwa perselisihan ini telah menyentuh persoalan legitimasi kepemimpinan FIFA secara keseluruhan.
Kasus Balogun dan Kekhawatiran Intervensi Politik
Persoalan Balogun menjadi pemicu kekhawatiran tersendiri di tubuh FA. Penyerang berusia 25 tahun itu semula mendapat kartu merah langsung karena pelanggaran terhadap bek Tarik Muharemovic dalam kemenangan 2-0 atas Bosnia-Herzegovina pada babak 32 besar. Sesuai aturan, ia seharusnya menjalani hukuman larangan bermain satu pertandingan.
Namun Federasi Sepak Bola Amerika Serikat kemudian mengizinkannya tampil melawan Belgia di babak 16 besar. FIFA menyatakan hukuman otomatis satu pertandingan itu ditangguhkan selama satu tahun. Tidak ada penjelasan mengenai alasan di balik keputusan tersebut selain merujuk pada aturan yang memungkinkan hukuman ditangguhkan.
FA sebenarnya sudah mengirim surat dukungan untuk pemilihan ulang Infantino sebelum insiden Balogun terjadi. Namun setelah kejadian itu, FA menyimpan kekhawatiran mendalam soal kemungkinan intervensi politik dalam keputusan FIFA. Kekhawatiran itu menguat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka mengonfirmasi bahwa ia menelepon Infantino dan meminta agar hukuman Balogun ditinjau kembali.
Dampak pada Pemilihan Ulang Infantino
Tekanan ini datang di momen yang sensitif bagi Infantino. Pria berusia 56 tahun itu akan mencalonkan diri untuk keempat kalinya pada Maret nanti, sementara para penantangnya memiliki waktu hingga 18 November untuk mengajukan kandidat alternatif. Artinya, setiap perkembangan seputar FFE dan kasus Balogun berpotensi memengaruhi peta dukungan menjelang pemungutan suara.
Sejumlah asosiasi nasional, termasuk dari Inggris, Wales, dan Skotlandia, telah menarik surat dukungan mereka untuk Infantino. Penarikan dukungan itu menjadi sinyal bahwa kepercayaan terhadap kepemimpinannya mulai terkikis, setidaknya di kawasan Eropa. Bagi FIFA, hal ini menimbulkan pertanyaan soal legitimasi politik Infantino bila ia kembali terpilih dengan dukungan yang terbelah.
Meski demikian, Infantino masih menikmati dukungan luas di tingkat global. Konfederasi Afrika, Amerika Selatan, dan Oseania secara tegas menegaskan kembali dukungan mereka kepadanya. Kondisi ini memperlihatkan pola khas politik FIFA: tekanan dari sebagian federasi besar tidak otomatis menggoyahkan basis dukungan dari kawasan lain.
Apa yang Bisa Terjadi Selanjutnya
Setelah FFE dibatalkan, Infantino menggelar rapat dewan manajemen FIFA di Rabat, Maroko. Namun hingga kini belum ada komunikasi dengan Dewan FIFA untuk menjelaskan rencana yang menuai kontroversi tersebut. Ketiadaan penjelasan resmi itu justru memperkuat kesan bahwa FIFA berupaya menutup persoalan secepat mungkin tanpa akuntabilitas yang memadai.
Situasi itu diprediksi berubah bulan depan, ketika Infantino harus berhadapan langsung dengan Hewitt dan 35 anggota Dewan FIFA lainnya. Pertemuan itu akan menjadi ujian nyata: apakah ia bersedia membuka dokumen dan menjelaskan duduk perkara FFE, atau tetap bertahan pada sikap defensif. Hasilnya juga dapat menentukan arah pencalonannya pada Maret mendatang.
Dalam konteks lebih luas, polemik FFE mencerminkan tren masuknya modal swasta ke sepak bola, mulai dari liga nasional hingga hak siar kompetisi internasional. Pertanyaannya, bagaimana lembaga seperti FIFA menyimbangkan kebutuhan pendanaan dengan prinsip akuntabilitas kepada asosiasi nasional dan penggemar. Selama pertanyaan itu belum terjawab, sorotan terhadap kepemimpinan Infantino hampir pasti akan terus berlanjut.
Pada akhirnya, surat dari Ketua FA Debbie Hewitt menempatkan tiga tuntutan utama di meja Infantino: membuka seluruh dokumen FFE, menjelaskan dasar pembatalan sanksi Balogun, dan menyerahkan prosesnya kepada tinjauan independen. Tenggat 15 Oktober serta pertemuan Dewan FIFA menjadi titik krusial yang akan menguji seberapa besar kesediaan FIFA untuk transparan. Jika tuntutan itu diabaikan, gelombang kritik dari asosiasi nasional dan konfederasi besar berpotensi menguat menjelang pemilihan bulan Maret.
