Direktur Eksekutif Arsenal, Richard Garlick, menegaskan bahwa semua pihak di Premier League menginginkan kejelasan dan penyelesaian cepat atas kasus Manchester City yang mencakup lebih dari 100 dugaan pelanggaran aturan keuangan. Pernyataan ini muncul di tengah situasi di mana komisi independen belum kunjung memublikasikan putusan, meskipun sidang disipliner telah berakhir lebih dari satu setengah tahun lalu. Padahal, Manchester City pertama kali dijerat tuduhan ini sekitar tiga setengah tahun yang lalu.
Sepanjang proses bergulir, Manchester City secara konsisten membantah seluruh tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Pernyataan Garlick kian menarik perhatian karena datang dari petinggi klub papan atas yang biasanya enggan berkomentar soal kasus yang menimpa rivalnya. Di tengah ketidakpastian ini, banyak pihak menunggu apakah kasus yang membayangi Premier League ini akhirnya menemui titik terang.
Semua Pihak Ingin Kejelasan atas Kasus Manchester City
Garlick mengakui bahwa proses yang berjalan terhadap Manchester City sudah memakan waktu cukup lama. Ia pun menegaskan bahwa baik pihak liga maupun klub-klub peserta sama-sama menginginkan kepastian tentang kelanjutan kasus ini. Namun, ia juga menekankan bahwa hal tersebut berada di luar kendalinya.
“Sudah berjalan cukup lama. Semua orang, baik liga maupun tim, ingin kejelasan tentang apa yang akan terjadi selanjutnya,” kata Garlick kepada BBC Sport. “Tetapi ini bukan sesuatu yang bisa saya kendalikan, dan bukan sesuatu yang bisa saya spekulasi. Saya hanya berharap ada solusi yang sangat cepat.”
Komentar Garlick ini muncul sehari menjelang dimulainya musim baru, menyusul pernyataan Direktur Eksekutif Premier League, Richard Masters. Masters mengakui bahwa proses ini memakan waktu lebih lama dari perkiraan, tetapi ia tidak bisa memberikan jawaban pasti. “Aturan kami sangat jelas, kami harus mengikuti proses, dan hanya ada satu jalur yang jelas, yaitu membiarkan proses itu mencapai kesimpulan alaminya,” ujar Masters sambil menyebut kasus ini sangat rumit.
Isi Tuduhan terhadap Manchester City
Ada sejumlah tuduhan yang dihadapi Manchester City dalam kasus ini, yang mencakup periode dari musim 2009-10 hingga 2017-18. Tuduhan-tuduhan tersebut secara garis besar berkaitan dengan masalah keuangan dan kepatuhan terhadap regulasi. Berikut rincian tuduhan yang dialamatkan kepada City:
- Dugaan kegagalan memberikan informasi keuangan yang akurat, termasuk detail pembayaran pemain dan manajer, dari musim 2009-10 hingga 2017-18.
- Dugaan kegagalan mematuhi aturan financial fair play (FFP) UEFA dari musim 2013-14 hingga 2017-18.
- Dugaan pelanggaran aturan profitabilitas dan keberlanjutan (PSR) Premier League dari musim 2015-16 hingga 2017-18.
Selain ketiga kategori di atas, City juga menghadapi sejumlah dakwaan terkait kegagalan bekerja sama dengan penyelidikan Premier League antara Desember 2018 hingga Februari 2023. Seluruh tuduhan inilah yang membuat kasus Manchester City menjadi salah satu kasus terbesar dalam sejarah Premier League. Dengan cakupan yang begitu luas, tidak heran proses hukumnya berjalan sangat panjang dan rumit.
Kekhawatiran Klub Lain soal Biaya dan Dampak
Secara pribadi, sejumlah pejabat dari berbagai klub Premier League yang dihubungi BBC Sport juga mengungkapkan rasa frustrasi mereka. Mereka mengakui bahwa proses ini berjalan independen dengan jadwalnya sendiri, tetapi tetap berharap ada kepastian. Salah satu pejabat bahkan menilai liga seharusnya secara aktif mencari sistem yang lebih baik demi memastikan penyelesaian yang lebih cepat.
Kekhawatiran lain datang dari biaya hukum yang terus membengkak. Liga tercatat menghabiskan £45 juta untuk biaya hukum selama musim 2023-24, sebagian besar terkait sengketa regulasi keuangan. Kondisi ini memicu kekhawatiran yang semakin besar di kalangan klub tentang biaya yang melonjak akibat pertarungan hukum yang panjang.
Arsenal sendiri menjadi salah satu klub yang paling terdampak secara kompetitif. The Gunners menjadi runner-up Premier League di belakang Manchester City pada 2023 dan 2024, dengan selisih hanya dua poin di musim terakhir. Arsenal, Liverpool, Manchester United, dan Tottenham bahkan dilaporkan telah mengirimkan pemberitahuan hukum kepada City pada 2024, dengan hak untuk mencari kompensasi jika klub tersebut terbukti bersalah. Beberapa pihak memperkirakan potensi kerugian yang mencapai lebih dari £100 juta.
Selain itu, keputusan Everton yang diperintahkan membayar kompensasi £35 juta kepada Burnley pada Juni lalu turut memperkuat keyakinan klub-klub lain. Kasus tersebut berkaitan dengan dampak pelanggaran aturan keuangan Premier League yang dilakukan Everton. Preseden ini membuat banyak klub merasa ada peluang nyata untuk mendapatkan ganti rugi jika Manchester City kelak dinyatakan bersalah.
Analisis: Langka bagi Petinggi Klub Buka Suara
Meskipun banyak yang menilai Garlick hanya menyuarakan apa yang dirasakan hampir semua orang di sepak bola Inggris, tetap saja langkahnya tergolong langka. Terlebih, Garlick bukan orang baru di Premier League karena sempat menjabat sebagai Direktur Sepak Bola liga dari 2018 hingga 2021. Tidak umum seorang petinggi klub papan atas berbicara terbuka tentang kasus yang menjerat rivalnya.
Sebelumnya, mantan ketua Tottenham, Daniel Levy, pernah menyebut kasus ini berlarut-larut, tetapi hingga kini hanya itu satu-satunya intervensi terisolasi. Tidak mengherankan jika rival-rival Manchester City merasa frustrasi. Sejak dijerat tuduhan pada Februari 2023, City telah menghabiskan hampir £700 juta untuk membeli pemain baru dan memenangkan enam trofi besar dalam periode tersebut. Pada musim panas ini saja, City telah menggelontorkan £151 juta, termasuk rekor klub £116 juta untuk gelandang Timnas Inggris, Elliot Anderson.
Sementara itu, City dan klub-klub lain terus berada dalam ketidakpastian. Selama proses belum selesai, awan gelap tetap menggantung di atas kompetisi, dan semua pihak hanya bisa menunggu. Situasi ini jelas tidak ideal bagi persaingan yang sehat di Premier League.
Arsenal Tak Aktif Jual Lewis-Skelly dan Nwaneri
Di tengah sorotan atas kasus Manchester City, Garlick juga angkat bicara soal masa depan dua pemain muda Arsenal, Myles Lewis-Skelly dan Ethan Nwaneri. Keduanya, yang sama-sama berusia 19 tahun, dikaitkan dengan kepindahan pada bursa musim panas ini, termasuk ke klub rival Premier League. Namun, Garlick menegaskan bahwa Arsenal tidak secara aktif berupaya menjual pemain didik akademi tersebut.
“Kami tidak sedang aktif mencari untuk menjual pemain homegrown itu, tetapi jika ada peluang yang tepat, baik untuk mereka maupun klub, kami tentu akan mempertimbangkannya,” ujar Garlick. Status homegrown Lewis-Skelly dan Nwaneri yang melewati jenjang akademi Arsenal membuat penjualan keduanya bisa menghasilkan keuntungan murni bagi klub. Hal ini penting untuk membantu keseimbangan keuangan di tengah aturan baru Premier League, yaitu Squad Cost Ratio (SCR).
Aturan baru tersebut memungkinkan klub membelanjakan 85 persen pendapatan untuk biaya transfer, gaji, dan kontrak. Namun, angka itu turun menjadi 70 persen bagi klub yang berlaga di kompetisi Eropa. Inilah yang membuat model perdagangan pemain semakin penting bagi klub-klub Premier League, termasuk Arsenal.
Transfer Arsenal dan Masa Depan Arteta
Meskipun sudah mendatangkan Bruno Guimaraes, Arsenal belum berhenti bergerak di bursa transfer. Klub dilaporkan gagal mendatangkan Vinicius Jr dan kehilangan Morgan Rogers pada musim panas ini dalam bursa yang berjalan cukup rumit. Kendati demikian, Garlick tetap berharap ada tambahan pemain baru yang mampu meningkatkan kualitas tim.
“Karena Anda bersaing untuk gelar Premier League atau trofi Liga Champions, Anda perlu mendatangkan pemain dengan kaliber tertentu. Menurut saya, kumpulan pemain itu sekarang lebih kecil daripada beberapa tahun lalu,” kata Garlick. Ia menambahkan bahwa jika ada peluang dalam beberapa pekan ke depan untuk menambah pemain yang bisa memperbaiki Arsenal, maka klub akan mengejarnya.
Garlick juga mengungkapkan keyakinannya terkait masa depan manajer Mikel Arteta yang kontraknya memasuki 12 bulan terakhir. “Mikel ingin bertahan di Arsenal, kami ingin Mikel di Arsenal,” tegas Garlick. “Hanya soal waktu sebelum kami tuangkan ke dalam kontrak baru. Semua orang percaya diri dan tenang. Kami sedang melalui bursa transfer dan saya yakin kontrak Mikel akan segera diselesaikan.”
Kasus Manchester City yang berlarut-larut jelas menjadi kekhawatiran besar bagi Premier League, baik dari sisi ketidakpastian kompetitif maupun biaya hukum yang terus membengkak. Pernyataan Garlick setidaknya membuka ruang diskusi tentang perlunya kepastian di tengah proses yang berjalan lambat. Namun, selama komisi independen belum mengumumkan putusan, semua pihak hanya bisa menunggu.
Di sisi lain, Arsenal tetap melanjutkan rencana mereka, baik dalam urusan bursa transfer maupun kontrak Arteta. Dengan skuad yang kompetitif dan harapan akan kejelasan kasus Manchester City, The Gunners berusaha tetap fokus pada persaingan musim ini. Semua mata kini tertuju pada keputusan komisi independen yang akan menentukan arah Premier League ke depan.
