Bellingham dan Kane Beraksi, Inggris Kunci Puncak Grup usai Kalahkan Panama

Kemenangan Penting Meski Bukan Tampil Sempurna

Timnas Inggris berhasil mengunci posisi puncak Grup L setelah menaklukkan Panama dengan skor 2-0 dalam lanjutan Piala Dunia. Meski hasil akhirnya positif, performa yang ditunjukkan oleh skuad asuhan Thomas Tuchel masih jauh dari kata meyakinkan. Jika ingin bertahan lebih lama di fase gugur, Inggris kunci puncak grup harus dibarengi dengan peningkatan kualitas permainan secara signifikan.

Pertandingan yang berlangsung di bawah guyuran hujan deras itu tidak langsung berjalan mulus. Justru di babak pertama, The Three Lions kesulitan membongkar pertahanan rapat Panama. Kekhawatiran sempat muncul ketika Inggris kembali menghadapi tembok pertahanan yang sulit ditembus, seperti yang mereka alami saat ditahan imbang oleh Ghana di laga sebelumnya.

Babak Pertama yang Menegangkan

Tuchel melakukan sejumlah perubahan taktis dengan menurunkan Jude Bellingham sebagai gelandang serang nomor delapan dan Morgan Rogers sebagai nomor sepuluh. Bukayo Saka dan Marcus Rashford kembali mengisi pos sayap, sementara Jarell Quansah dipercaya sebagai bek kanan menggantikan Reece James yang cedera. Declan Rice diistirahatkan karena masalah cedera ringan dan akumulasi kartu kuning.

Di sepertiga jam pertama, Inggris memang mendominasi penguasaan bola namun kesulitan menciptakan peluang berbahaya. Rashford hampir mencetak gol pada menit kedelapan, tapi tembakannya masih bisa ditepis kiper Panama, Orlando Mosquera. Saka juga digagalkan oleh blok Jorge Gutiérrez sebelum jeda hidrasi pertama. Panama sendiri tampil disiplin dalam formasi 5-4-1 dan tidak sekadar bertahan pasif — mereka sesekali melancarkan serangan balik yang merepotkan lini belakang Inggris.

Salah satu momen kritis terjadi pada menit ke-26 ketika José Luis Rodríguez lolos di sisi kiri dan melepaskan tembakan mendatar ke tiang dekat. Beruntung, Jordan Pickford sigap mengamankan bola setelah Quansah meninggalkan ruang kosong. Kejadian semacam itu memperlihatkan masih ada celah di pertahanan Inggris yang bisa dimanfaatkan lawan-lawan lebih kuat nantinya.

Babak Kedua: Bellingham dan Kane Jadi Penyelamat

Memasuki babak kedua, Tuchel tidak mengubah strategi. Ia tetap percaya pada kemampuan para pemainnya untuk menemukan ritme dan ketajaman. Rashford terus menusuk dari sayap, namun penyelesaian akhir masih kurang presisi. Kane sempat memberikan umpan belakang kepada Bellingham yang tidak langsung melepaskan tembakan.

Keputusan cerdas Tuchel untuk tidak mengganti Saka sebelum tendaan pojok pada menit ke-63 berbuah manis. Inggris kunci puncak grup setelah Bellingham sukses menyambar bola sepak pojok Saka dengan sepakan voli rendah terarah — gol yang tercipta berkat kerja sama apik dan determinasi tinggi. Pelatih asal Jerman itu bahkan tidak merayakannya; ekspresinya justru tampak kesal, menunjukkan standar tinggi yang ia harapkan dari timnya.

Bellingham kemudian menggandakan keunggulan hanya beberapa menit berselang. Ia meliuk-liuk melewati pemain Panama sebelum memberikan umpan matang kepada Kane yang langsung disundul menjadi gol. Bagi Kane, ini adalah gol ke-11 di Piala Dunia, melampaui rekor Gary Lineker sebagai pencetak gol terbanyak Inggris dalam ajang tersebut. Dua pilar utama itu, Bellingham dan Kane, memastikan Inggris kunci puncak grup dengan nyaman.

Pekerjaan Rumah bagi Tuchel

Meski menang, performa Inggris masih menyisakan banyak pertanyaan. Di sisa laga, Panama sempat menyarangkan bola melalui Jose Fajardo, namun dianulir karena offside. Lini belakang Inggris terlalu sering kehilangan konsentrasi dan memberikan ruang. Tuchel kini memiliki banyak bahan evaluasi sebelum menghadapi Republik Demokratik Kongo di Atlanta pada laga berikutnya.

Suasana di akhir pertandingan tidak terasa gegap gempita seperti kemenangan 6-1 atas Panama di Piala Dunia 2018. Ketika lagu Wonderwall berkumandang dan para suporter Inggris ikut bernyanyi, tidak ada euforia berlebihan — lebih mirip rasa lega. Namun setidaknya, langkah pertama sudah terlewati. Inggris kunci puncak grup dan akan melangkah ke fase gugur dengan modal sebagai juara grup.

Kesimpulan: Modal ke Fase Gugur

Kemenangan ini membuktikan bahwa Inggris punya mentalitas juara untuk memenangkan pertandingan penting meski tidak tampil sempurna. Namun jika ingin bersaing dengan tim-tim elite dunia, mereka harus segera memperbaiki kekompakan bertahan, kreativitas di lini tengah, dan ketajaman di depan gawang. Bellingham dan Kane memang menjadi andalan, tapi dukungan dari pemain lain sangat diperlukan.

Dengan Inggris kunci puncak grup, harapan untuk melangkah jauh masih terbuka lebar. Kini semua mata tertuju pada bagaimana Tuchel meramu strategi untuk fase knock-out yang akan segera dimulai.