Anthony Gordon Minta Inggris Berhenti Meniru Spanyol

Pesan Anthony Gordon Jelang Duel Inggris Kontra Spanyol

Winger Barcelona, Anthony Gordon, menilai Timnas Inggris sebaiknya berhenti berusaha meniru gaya permainan Spanyol. Menurutnya, kemampuan mengendalikan pertandingan lewat penguasaan bola bukan bagian dari “DNA” sepak bola Inggris. Ia justru meyakini The Three Lions bisa memenangi turnamen besar apabila bermain sesuai kekuatan mereka sendiri.

Pernyataan itu disampaikan Gordon di St George’s Park, tempat skuad Inggris berkumpul menjelang laga melawan Spanyol pada Sabtu. Duel tersebut menjadi pertemuan pertama pasukan Inggris sejak gelaran Piala Dunia, sekaligus kesempatan menguji diri menghadapi sang juara dunia. Spanyol datang dengan reputasi sebagai tim yang paling nyaman menguasai bola, sementara Inggris baru saja melewati turnamen yang menyisakan banyak pertanyaan soal cara bermain mereka.

Gordon, 25 tahun, tidak berbicara sekadar sebagai pemain yang mengamati gaya Spanyol dari kejauhan. Ia kini menjalani karier di La Liga bersama Barcelona dan berhadapan langsung dengan sebagian bintang terbaik Spanyol, sehingga perbandingan yang ia buat lahir dari pengalaman sehari-hari di lapangan.

Mengapa Gordon Menilai Inggris Tak Perlu Meniru Spanyol

Menurut Gordon, persoalan terbesar Inggris adalah kecenderungan mengukur diri dengan standar negara lain, khususnya Spanyol. Ia menegaskan skuad Inggris tidak kekurangan pemain berkualitas, tetapi kualitas itu memiliki karakter berbeda dari yang dimiliki para pemain Spanyol. Karena itu, memaksa pemain Inggris tampil persis seperti pemain Spanyol justru berpotensi menghapus keunggulan yang sudah mereka miliki.

Gordon sendiri bergabung dengan Barcelona dari Newcastle pada musim panas dengan nilai transfer 69,3 juta poundsterling. Pengalaman bermain di La Liga, baik bersama maupun melawan sebagian bintang utama Spanyol, membuatnya menyadari betapa berbeda pendekatan sepak bola di negara itu dibandingkan Inggris. Ia pun tidak yakin pemain Inggris bisa dilatih untuk bermain lebih mirip Spanyol dengan gaya penguasaan bola rumit mereka.

“Saya bicara dari sudut pandang orang yang merasa kami sedang mencoba meniru Spanyol,” kata Gordon. Ia menambahkan bahwa pemain Spanyol juga kekurangan hal-hal yang justru dimiliki pemain Inggris, dan sebaliknya. Menurutnya, perbedaan semacam itu tidak bisa diselesaikan hanya dengan meniru gaya permainan lawan.

Bagi Gordon, masalahnya bukan pada keterampilan teknis yang bisa diasah, melainkan pada cara berpikir dan karakter bawaan. Ia mengaku kini bisa berbicara dengan pandangan yang lebih terdidik soal cara Spanyol menjaga bola, termasuk soal keputusan-keputusan di atas lapangan yang menurutnya sulit ditiru. “Itu cara mereka dibentuk. Saya tidak tahu apakah ini sesuatu yang bahkan tidak bisa kita beri nama, tapi mereka memang dibentuk berbeda,” ujarnya.

Kekecewaan di Semifinal dan Jalan Inggris di Piala Dunia

Konteks pernyataan Gordon adalah perjalanan Inggris di Piala Dunia yang berakhir dengan rasa campur aduk. Inggris tumbang 2-1 dari Argentina di semifinal, sebelum menutup turnamen dengan kemenangan 6-4 atas Prancis pada perebutan tempat ketiga. Hasil itu membuat Inggris mencatat finis terbaik mereka di Piala Dunia sejak 1966.

Namun cara Inggris tersingkir dari Argentina menuai banyak kritik. Pelatih kepala Thomas Tuchel menarik Gordon yang mencetak gol dan mengubah formasi menjadi lima bek, sebuah penyesuaian taktis yang justru mengundang tekanan lawan. Enzo Fernandez menyamakan kedudukan, lalu Lautaro Martinez mencetak gol kemenangan Argentina pada masa tambahan waktu.

Gordon mengaku tidak pernah merasa lebih buruk daripada setelah pertandingan itu. Meski demikian, ia menolak memandang luka kekalahan tersebut semata-mata sebagai hal negatif, karena pengalaman itu bisa menjadi pelajaran berharga pada turnamen-turnamen berikutnya.

“Luka” yang Diyakini Bisa Menjadi Modal Juara

Gordon menyebut bekas luka kekalahan tidak harus berdampak buruk bagi Inggris. Ia bahkan meyakini hal itu bisa mengantar timnya meraih kemenangan di turnamen berikutnya. Menurutnya, Inggris tidak bisa terus melihat negara lain dan berusaha menjadi seperti mereka, sebab Inggris punya kekuatan sendiri yang tidak dimiliki bangsa lain.

Dari situ muncul gagasannya tentang pendekatan baru: bermain dengan cara yang paling sesuai dengan kekuatan Inggris. Baginya, mengenali identitas sendiri lebih penting daripada mengejar standar permainan yang dibangun negara lain. Pendekatan semacam itu, katanya, bisa menjadi titik balik menuju gelar juara.

Substitusi yang Mengejutkan dan Beban Tanggung Jawab Bersama

Gol Gordon di semifinal menjadi puncak turnamen yang impresif bagi pemain berusia 25 tahun tersebut. Ia tampil sebagai starter pada lima pertandingan Inggris dan mencatatkan empat assist. Namun ia ditarik keluar hanya 17 menit setelah membawa Inggris unggul atas Argentina, dan ia mengaku kaget dengan keputusan itu.

Menurut Gordon, mencetak gol membuatnya bermain dengan adrenalin dan masuk ke mode percaya diri yang tidak tersentuh. Ia merasa berada di puncak dunia pada momen sebesar itu. Meski begitu, ia menyadari bahwa sebagai winger, digantikan di sebagian besar pertandingan adalah hal yang normal baginya, kendati pergantian pada laga semifinal itu terasa berbeda.

Ia juga mengaitkan jalannya laga melawan Argentina dengan pengalaman Inggris di babak 16 besar. Inggris bersusah payah menang 3-2 atas Meksiko di Stadion Azteca, dalam pertandingan di mana mereka bermain dengan 10 orang lebih dari 35 menit setelah kartu merah Jarell Quansah. Menurut Gordon, cara kemenangan dramatis itu ikut memengaruhi cara berpikir para pemain saat berusaha menuntaskan laga melawan Argentina.

Gordon menyoroti bahwa performa tim di laga sesungguhnya tidak menyamai level yang mereka tunjukkan di sesi latihan. Jika berhasil tampil sesuai kapasitas latihan, ia yakin Inggris akan mendominasi setiap lawan. Ia pun membela taktik Tuchel yang dinilai lebih aman dan lebih defensif, serta menegaskan bahwa satu orang tidak layak disalahkan atas hasil tersebut.

Menurutnya, para pemain seharusnya bisa berbuat lebih banyak untuk mengambil inisiatif mengendalikan pertandingan melawan Argentina. Dengan begitu, kata dia, sang pelatih tidak perlu mengambil keputusan memakai lima bek. Gordon menilai Inggris memiliki tim dan pemain terbaik di lapangan pada semifinal itu, tetapi gagal menampilkan sepak bola terbaik pada 20 menit terakhir, sesuatu yang tidak bisa dipengaruhi pelatih dari pinggir lapangan sehingga tanggung jawab semestinya dipikul bersama.

Ujian di Wembley dan Pelajaran dari Dominasi Spanyol

Spanyol tiba sebagai juara dunia setelah mengalahkan Argentina di final. Pada laga puncak itu, Spanyol menguasai bola hingga 65 persen dan membatasi lawan yang dipimpin Lionel Messi hanya pada dua tembakan selama 120 menit, dan tak satupun mengarah ke gawang. Dominasi semacam itu menjadi pembanding yang keras bagi Inggris, yang dalam beberapa tahun terakhir kerap dipertanyakan soal kemampuan mengendalikan bola melawan negara-negara elite.

Inggris kalah pada dua final Kejuaraan Eropa berturut-turut, serta tersingkir oleh Prancis dan Argentina pada dua Piala Dunia terakhir. Rentetan hasil itulah yang memunculkan perdebatan berulang tentang apakah Inggris cukup mampu mengontrol pertandingan ketika berhadapan dengan tim papan atas. Gaya khas Spanyol pun diprediksi kembali menguji Inggris di Wembley akhir pekan ini.

Bagi Gordon, jawabannya bukan dengan menyalin cara bermain lawan, karena ia ragu pendekatan itu bisa diajarkan kepada pemain Inggris. Ia menilai cara Spanyol menjaga bola adalah sesuatu yang khas dan melekat pada cara mereka dibentuk sebagai pemain. Inilah yang membuatnya mendorong Inggris menemukan jalannya sendiri, bukan meniru jalur yang sudah terbukti berhasil bagi negara lain.

Dari pernyataan Gordon, ada dua hal yang menonjol: kritik terhadap kecenderungan Inggris meniru gaya negara lain, dan pengakuan bahwa para pemain turut bertanggung jawab atas kegagalan di semifinal. Ia menilai kekalahan dari Argentina bisa menjadi modal berharga, asalkan Inggris mau belajar tanpa kehilangan identitasnya sendiri.

Laga melawan Spanyol pada Sabtu akan menjadi ujian pertama bagi Inggris untuk membuktikan apakah mereka memilih mengejar standar lawan atau memperkuat cara bermain sendiri. Seberapa jauh pelajaran dari Piala Dunia diterjemahkan ke atas lapangan, jawabannya mungkin mulai terlihat di Wembley.