John McGinn akan menginjak penampilan ke-92 untuk Skotlandia pada laga di Skopje, hanya delapan caps di belakang Andy Robertson yang merayakan caps ke-100. Namun di balik deretan angka itu, muncul pertanyaan yang semakin sering dibicarakan publik sepak bola Skotlandia: mampukah John McGinn Skotlandia kembali menemukan performa terbaiknya seperti beberapa musim silam?
Nama McGinn memang bukan sekadar pemain biasa bagi para penggemar. Di level klub ia menjelma legenda Aston Villa, sementara di St Mirren dan Hibernian namanya sudah lama dianggap ikonik. Karena status itulah setiap penurunan performa bersama tim nasional langsung jadi sorotan, dan kritik terhadapnya sering kali disambut reaksi keras dari pendukung setianya. Laga di kandang Makedonia Utara ini pun terasa seperti panggung yang tepat untuk membungkam keraguan tersebut.
Catatan 92 Caps dan Posisi John McGinn di Buku Sejarah
Setelah pertandingan akhir pekan nanti, McGinn akan mengoleksi 92 caps dan menempati urutan ketiga dalam daftar penampilan terbanyak sepanjang sejarah tim nasional Skotlandia. Di daftar pencetak gol terbanyak, ia kini berada di posisi kelima dan hanya terpaut satu gol dari sosok legendaris Lawrie Reilly. Angka-angka ini menegaskan bahwa usianya yang akan menginjak 32 tahun dalam beberapa pekan ke depan tidak mengurangi posisinya sebagai salah satu pemain paling berpengaruh di generasinya.
Robertson menjadi pusat perhatian pada laga ini karena mencapai caps ke-100, sebuah pencapaian yang sangat jarang terjadi. McGinn berada beberapa langkah di belakangnya, dan delapan caps lagi memisahkannya dari tonggak serupa. Bagi pemain yang melakukan debut pada 2016 melawan Denmark, pencapaian itu bukan sekadar statistik, melainkan bukti panjangnya karier di level internasional.
Yang membuat posisinya istimewa, McGinn bukan tipe pemain yang hanya mengumpulkan caps karena nama besar. Selama bertahun-tahun ia dikenal karena kerja keras yang luar biasa, kemampuan bertahan dan menyerang sekaligus, serta gol-gol penting di momen krusial. Kombinasi itu yang membuat pelatih dan rekan setim selalu menganggapnya sebagai bagian inti dari Skotlandia.
Terlalu Lama Tak Bersuara di Panggung Internasional
Meski demikian, ada pengakuan yang perlu disampaikan dengan hati-hati: pengaruh McGinn bersama Skotlandia belakangan ini menurun dibandingkan puncak performanya beberapa tahun lalu. Semangat, kebanggaan, dan etos kerjanya tidak pernah hilang, tetapi momen-momen yang menentukan hasil pertandingan jarang muncul, kecuali sesekali dalam kilasan singkat. Gol ke gawang Haiti yang tercipta lewat dua defleksi menjadi pengecualian yang paling menonjol.
Sebelum gol ke Haiti di Piala Dunia itu, gol terakhir McGinn untuk Skotlandia sudah hampir dua tahun lamanya. Jarak waktu selama itu tentu tidak sebanding dengan statusnya sebagai salah satu pemain yang paling diandalkan. Penggemar tetap menyerukan namanya, baik saat tim sedang jaya maupun terpuruk, dan justru di situlah beban ekspektasi terasa paling berat.
Menuntut McGinn tampil seperti superhero di setiap pertandingan jelas tidak adil. Namun harapan itu muncul secara alami karena ia sendiri yang selama ini menempatkan diri sebagai pemimpin di lapangan. Karena itu, laga di Skopje terasa seperti momen yang sudah lama tertunda untuk mengingatkan semua orang akan kualitasnya.
Bicara Terbuka soal Tekanan dan Label Tak Tergantikan
Saat berbicara di Stadion Todor Proeski, Skopje, McGinn menanggapi pertanyaan tentang bentuk permainan, kepercayaan diri, dan tekanan yang menyertai statusnya sebagai inspirasi tim dengan sangat terbuka. Menurutnya, beban besar adalah hal yang wajar bagi pemain di level klub maupun tim nasional. Ia menyebut bahwa ketika bermain baik, seorang pemain dianggap luar biasa, tetapi ketika melewati dua laga buruk, tidak memberi assist, atau salah mengumpan di momen penting, penilaian berbalik menjadi tidak cukup baik.
Ia menilai semua itu sebagai bagian dari usianya yang akan menginjak 32 tahun, serta konsekuensi bersaing di Skotlandia dan Aston Villa. Pujian ia terima dengan senyum lebar, sementara kritik dianggap sebagai hal yang tidak terhindarkan. Menurutnya, cara berpikir seperti itu membuatnya lebih tenang menghadapi naik turunnya penilaian publik.
Ketika ditanya apakah ia merasa tidak bisa dicadangkan karena sudah mengoleksi 91 caps, jawabannya tegas: tidak. Ia mengingat pengalaman ketika Steve Clarke menempatkannya di bangku cadangan dan ia sama sekali tidak mempermasalahkannya. Ia menegaskan bahwa tidak ada pemain yang benar-benar tidak tergantikan di skuad ini, dan ia justru mendorong setiap pemain yang masuk untuk memberi tantangan.
Kompetisi di dalam skuad, menurutnya, selalu ada, entah pemainnya berusia 20, 21, atau sudah kepala tiga. Ia meyakini pemain terbaiklah yang akan tampil untuk Skotlandia, dan jika pelatih memintanya duduk di bangku cadangan untuk bermain lima menit, sepuluh menit, tidak sama sekali, atau lebih dari 90 menit, ia tetap siap karena tujuannya adalah mewakili negaranya. Ia juga menyebut bahwa keberhasilan Skotlandia selama ini dibangun karena tidak peduli pemain itu berasal dari Aston Villa, Motherwell, Hibernian, atau St Mirren, yang turun adalah tim terbaik. Jika tim terbaik itu tidak menyertakan namanya, ia mengaku akan menjadi pendukung Skotlandia paling bersemangat dari bangku cadangan.
Alasan McGinn Tetap Bermotivasi Setelah Bertahun-tahun
Soal apa yang membuatnya terus bersemangat, McGinn menjawab dengan cepat. Ia mengingat bagaimana perasaannya pada malam debutnya melawan Denmark pada 2016, lengkap dengan kebanggaan dan emosi yang menyertainya. Menurutnya, saat dipilih membela negara, seorang pemain tidak pernah tahu kapan penampilan itu menjadi yang terakhir, sehingga tidak ada alasan untuk menganggapnya sebagai hal biasa. Ia bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa laga berikutnya bisa jadi pilihan terakhir baginya.
Pernyataan itu menunjukkan sisi lain dari seorang pemain yang sudah lama berada di level atas. Bagi McGinn, motivasi bukan lagi soal membuktikan diri kepada orang lain, melainkan menjaga rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan. Sikap tersebut juga menjelaskan mengapa ia tetap mampu menjaga standar permainannya di level klub meski kritik di level negara terus mengiringi.
Legenda Aston Villa yang Memilih Bertahan
Di Aston Villa, kisah McGinn berjalan dengan cara yang berbeda. Ia menjadi salah satu tokoh utama yang membawa klub promosi dari Championship pada 2019, lalu bertahan di Premier League pada 2020. Ia juga menjadi bagian dari perjalanan panjang yang mengangkat Villa dari posisi ke-17 ke peringkat 11, lalu 14, 7, dan akhirnya 4 di liga utama Inggris. Dari sana klub membuka jalan ke sepak bola Liga Champions, dan pada musim lalu ia dipercaya sebagai kapten sekaligus mencetak gol ketika timnya memenangi trofi Eropa. Ia pun memecahkan rekor gol pemain Villa di kompetisi Eropa.
Yang membuat ceritanya berbeda, McGinn adalah salah satu dari sedikit pemain yang memilih bertahan. Jack Grealish pergi, begitu pula Douglas Luiz, Ollie Watkins, Emi Martinez, dan Youri Tielemans. Sebagian kalangan menyebutnya kapten terbaik Villa sejak Dennis Mortimer, pemimpin tim juara liga 1981 dan juara Piala Eropa 1982, sebuah pujian yang tentu tidak kecil.
Dalam sebuah diskusi penggemar Villa, muncul pertanyaan tentang apa yang membuat seseorang layak disebut legenda. Jawaban yang muncul beragam: kerendahan hati, tekad, kegigihan, kepemimpinan, panjangnya karier, dan kesuksesan. Salah satu pendukung klub menulis bahwa dalam beberapa dekade terakhir banyak pemain memenuhi sebagian kriteria itu, tetapi hanya sosok istimewa yang mampu memenuhi semuanya, dan McGinn melakukannya. Seorang pengamat bahkan menyebut McGinn berada di atas pemain mana pun yang dimiliki Villa pada abad ini dan melampaui sebagian legenda dari era sebelumnya.
Cara McGinn Menghadapi Kritik dan Masa Sulit
McGinn mengakui bahwa dirinya kini terlalu berpengalaman untuk terlalu terpengaruh pujian maupun cercaan. Kalau saja ia lebih muda, ia mengaku akan langsung membuka Instagram atau Twitter untuk membaca semua komentar. Sekarang ia memilih menundukkan kepala dan terus bekerja keras, karena setiap orang berhak punya pendapat masing-masing.
Saat melewati masa paceklik atau periode ketika permainannya tidak berjalan baik, ia menekankan pentingnya menemukan keyakinan dari dalam diri sendiri. Semakin tua, seorang pemain belajar mengelola momen sulit dengan lebih baik, meski ia juga mengakui bahwa momen buruknya justru terasa semakin berat. Ia menggambarkan bahwa titik terendah menjadi semakin rendah dan titik tertinggi terasa tidak setinggi dulu, tetapi kemampuan mengatasinya jauh lebih matang dibandingkan saat muda, ketika semuanya terasa menguras pikiran.
Ia juga mengungkap kebiasaan sederhana setelah pertandingan. Setelah laga yang berjalan seperti melawan Swiss, ia memilih tidak menyalakan televisi maupun mendengarkan laporan radio. Namun ia jujur mengakui bahwa jika Skotlandia menang 3-0, ia tidak akan melewatkan sebagian ulasan tentang pertandingan itu.
Menuju 100 Caps dan Peluang di Skopje
Prospek mengikuti jejak Robertson menuju 100 caps menjadi insentif besar bagi McGinn. Setelah laga melawan Makedonia Utara, ia masih menyisakan delapan penampilan lagi untuk mencapai tonggak tersebut. Jika konsistensi dan kondisi fisiknya terjaga, target itu bukan hal yang mustahil untuk dikejar dalam waktu dekat.
Di kota yang identik dengan Bunda Teresa itu, jumlah orang yang kehilangan kepercayaan pada McGinn bisa dihitung dengan jari. Semua pihak masih menantikan ledakan-ledakan berikutnya, meski saat ini ia mungkin sedang berada di masa jeda bersama tim nasional. Dibandingkan momen-momen besarnya di musim-musim sebelumnya, penampilannya memang belum sepenuhnya kembali.
Tidak ada yang benar-benar menganggap kariernya di level internasional sudah selesai. Pertanyaannya bukan lagi soal kemampuan, melainkan soal kapan momen itu datang kembali. Dan di Skopje, di hadapan pendukung yang selalu menyanyikan namanya, McGinn punya kesempatan sempurna untuk mengingatkan semua orang mengapa kepercayaan itu tidak pernah pudar.
