Play-off Piala Dunia Wanita 2027 Dinilai Tak Efektif

Play-off Piala Dunia Wanita 2027 zona Eropa kembali menjadi sorotan setelah Inggris menghancurkan Yunani dengan agregat 8-1 pada ronde pertama. Kemenangan itu terasa terlalu gampang bagi salah satu kekuatan utama benua melawan lawan yang tertinggal 55 peringkat di ranking dunia, sehingga memunculkan pertanyaan serius soal apakah struktur kualifikasi saat ini masih layak dipertahankan.

Yang menarik, hasil itu bukan kejadian tunggal. Sejumlah negara besar Eropa yang terpaksa turun ke jalur play-off juga berhadapan dengan lawan berperingkat jauh lebih rendah dan menang dengan skor besar. Kondisi tersebut dinilai tidak lagi mencerminkan perkembangan sepak bola wanita Eropa yang justru semakin kompetitif, dan memicu desakan agar UEFA meninjau ulang proses kualifikasinya.

Kemenangan Telak yang Mewarnai Ronde Pertama

Inggris, dua kali juara Eropa, tampil superior di hampir semua aspek pertandingan ketika menyingkirkan Yunani. Yunani sebenarnya menunjukkan permainan cukup baik saat kalah 3-1 di kandang sendiri, tetapi secara realistis peluang mereka untuk melewati dua leg melawan tim asuhan Sarina Wiegman memang sangat kecil. Selisih kualitas yang besar membuat hasil akhir seolah sudah bisa ditebak sebelum bola digulirkan.

Skor mencolok tersebut bukan satu-satunya pada ronde itu. Tim-tim papan atas Eropa lain yang harus melewati jalur play-off juga bertemu lawan dari lapisan bawah dan menutup pertandingan dengan kemenangan telak. Deretan hasil itu membuat laga malam tersebut terasa tidak mewakili pertumbuhan sepak bola wanita Eropa yang belakangan ini jauh lebih merata.

Justru dari situ muncul kesimpulan berbeda: skor-skor besar itu menjadi indikasi bahwa proses kualifikasi perlu dievaluasi oleh UEFA. Pertanyaannya bukan lagi soal kualitas Inggris atau negara-negara kuat lain, melainkan soal desain kompetisi yang mempertemukan tim-tim dengan jarak kualitas terlalu jauh di tahap yang seharusnya sudah ketat.

Akar Masalah: Hanya Satu Tiket Otomatis per Grup

Penyebab utama rentetan skor timpang itu cukup sederhana, yakni hanya satu tim dari setiap grup fase liga yang mendapat tiket lolos otomatis. Akibatnya, tim-tim besar yang finis di posisi kedua harus masuk play-off dan berhadapan dengan lawan yang levelnya jauh di bawah mereka.

Belanda, juara Eropa 2017, menjadi contoh jelas. Mereka finis sebagai runner-up di grupnya di belakang Prancis yang menempati peringkat keenam dunia, lalu melibas Hungaria dengan agregat 11-0 di play-off. Norwegia, juara dunia 1995 dan enam kali finalis Eropa, juga kehilangan tiket otomatis karena kalah bersaing dengan Jerman, dan kemudian menang 8-0 atas Rumania.

Nasib serupa dialami tim-tim League A lainnya. Swedia menggilas lawannya dengan agregat 15-0, sementara Republik Irlandia menang 12-0. Karena itu, tidak mengherankan ketika Inggris yang berada satu grup dengan juara dunia Spanyol kemudian mencatat kemenangan besar lain atas tim League C yang kualitasnya jauh di bawah mereka.

Wiegman sendiri mengakui situasi yang dihadapi timnya. “Tentu kami ingin lolos langsung, tapi itu tidak terjadi,” ujarnya saat kembali ditanya soal proses kualifikasi. “Bagi kami sekarang, faktanya kami ada di play-off, kami sudah bermain melawan Yunani, sekarang kami lolos, dan selanjutnya kami akan menghadapi Ukraina. Itu yang menjadi fokus saya.” Ia menambahkan bahwa UEFA yang akan meninjau bagaimana semua ini disusun, dan menurutnya bukan tempatnya untuk melakukan peninjauan tersebut.

Dampak bagi Inggris: Melawan Tim yang Sudah Dua Kali Dikalahkan

Inggris masih harus melewati satu rangkaian dua leg lagi melawan Ukraina. Leg pertama akan digelar di kandang Ukraina pada 1 Desember, sedangkan leg kedua berlangsung di Stadion Wembley pada 5 Desember. Yang membuat situasi ini terasa janggal, Inggris sudah dua kali mengalahkan Ukraina di fase liga dengan agregat 9-1.

Artinya, untuk memastikan tempat di putaran final, Inggris berpotensi harus mengalahkan tim yang sama hingga tiga kali dalam satu proses kualifikasi. Beban seperti ini jelas tidak dialami tim-tim besar yang sudah mengamankan tiket otomatis dan bisa memakai jadwal internasional untuk uji coba melawan lawan selevel.

Padahal catatan Inggris di jalur kualifikasi ini tergolong impresif. Mereka menang tujuh dari delapan laga, mencetak 21 gol, dan hanya kebobolan enam kali, dengan satu-satunya kekalahan terjadi saat tandang melawan juara dunia Spanyol. Inggris bahkan finis sebagai runner-up League A3 semata-mata karena kalah rekor head-to-head dari Spanyol, dan mereka mampu mengalahkan Spanyol 1-0 di Wembley.

Dari sisi perolehan poin, Inggris mengumpulkan 15 angka di fase liga, jumlah yang hanya dilampaui tiga tim lain, yaitu Jerman, Swiss, dan Hungaria. Dua nama terakhir menarik dicatat karena Swiss dan Hungaria berkompetisi di grup League B dan League C yang tidak memuat satu pun tim dari 45 besar ranking dunia. Sebaliknya, Inggris yang diunggulkan di League A harus menghadapi Islandia berperingkat 13 dan Spanyol yang menempati peringkat pertama dunia dalam grup berisi empat tim.

Kompetisi Eropa Makin Ketat, Format Belum Sejalan

Ketimpangan dalam proses kualifikasi sebenarnya bukan hal baru. Saat menuju Piala Dunia Wanita 2023, Inggris dua kali mengalahkan Latvia dengan skor 20-0 dan 10-0. Meski kualifikasi ketika itu tetap timpang, putaran final di Australia dan Selandia Baru menyajikan cerita berbeda setelah jumlah peserta bertambah dari 24 menjadi 32 tim.

Di turnamen itu, Inggris sempat kesulitan menghadapi debutan Haiti dan hanya menang tipis 1-0 di fase grup, lalu diuji Kolombia di perempat final meski tim Amerika Selatan tersebut gagal lolos ke edisi sebelumnya. Peningkatan level persaingan juga terasa di Eropa, terbukti dari kegagalan Inggris membawa Tim GB ke Olimpiade 2024 setelah finis di bawah Belanda di grup Nations League. Pada tahun berikutnya, Inggris mencatat hasil imbang dengan Portugal dan kalah dari Belgia, serta harus melewati dua adu penalti di Euro 2025.

Setelah kekalahan 4-0 dari Spanyol pada Juni, Wiegman menyoroti beratnya persaingan di Eropa. “Kompetisi di Eropa benar-benar tinggi. Yang membuat saya kecewa adalah kami menang lima pertandingan, punya 15 poin, berada di satu grup bersama juara dunia, tapi tetap tidak bisa lolos,” katanya. “Saya puas dengan performa, tapi tidak dengan hasil karena harus masuk play-off. Itulah yang terjadi.”

Hal yang paling menjengkelkan bagi Inggris adalah ketika mereka menjalani kemenangan rutin atas Yunani dan bersiap menghadapi lawan yang sudah dua kali mereka kalahkan, calon rival mereka di putaran final justru menikmati laga melawan tim kelas atas. Jerman dan Jepang bertemu dalam laga persahabatan, Brasil bermain imbang 2-2 dengan Argentina, dan Amerika Serikat yang empat kali juara dunia menghadapi Spanyol dua kali dalam lima hari.

Proyeksi dan Persoalan yang Belum Tuntas

FIFA telah mengumumkan bahwa Piala Dunia Wanita 2031 akan diperluas dari 32 menjadi 48 tim. Keputusan itu dinilai masih terlalu dini untuk dievaluasi dampaknya, karena penambahan peserta belum tentu menyelesaikan masalah ketimpangan di tingkat kualifikasi.

Selama skor-skor besar masih muncul, penyebabnya lebih tepat dilihat sebagai konsekuensi langsung dari proses kualifikasi Eropa yang tidak menguntungkan mayoritas peserta. Format yang memaksa tim-tim kuat bertemu lawan jauh di bawah level mereka justru mengurangi nilai kompetitif laga, sekaligus menghambat tim-tim tersebut mempersiapkan diri menghadapi turnamen sesungguhnya.

Bagi Inggris, apa pun hasil tinjauan UEFA nanti, tugas mereka dalam waktu dekat sudah jelas: melewati Ukraina dan memastikan tiket ke putaran final. Namun perdebatan soal format kualifikasi tampaknya akan terus berlanjut, terutama jika ronde-ronde berikutnya kembali menghasilkan skor yang tidak seimbang.