10 Pemain Inggris Terbaik di Luar Negeri Sepanjang Abad Ini

Daftar 10 pemain Inggris terbaik di luar negeri sejak pergantian abad ini dipuncaki satu nama yang hampir mustahil dibantah: Gareth Bale. Penyerang asal Wales itu mengoleksi lima medali juara Liga Champions bersama Real Madrid, jumlah yang lebih banyak dibanding gabungan seluruh nama lain dalam daftar ini. Di bawahnya berjajar sosok seperti Harry Kane, Jude Bellingham, Steve McManaman, hingga David Beckham yang membuka jalan bagi generasi sesudahnya. Daftar ini merangkum pesepakbola asal Inggris Raya, termasuk Skotlandia dan Wales, yang paling bersinar di kompetisi luar negeri.

Yang membuat daftar ini relevan bukan sekadar nostalgia. Delapan pemain dari skuad Piala Dunia terakhir Inggris kini berkarier di luar negeri, membentang dari Munich dan Madrid hingga Milan sampai Timur Tengah. Skotlandia bahkan menempatkan lebih banyak pemain di luar negeri, dengan Serie A Italia sebagai tujuan dominan. Artinya, apa yang dulu dianggap petualangan eksotis sudah berubah menjadi rute karier yang lazim dan terukur.

Dari Era Gazza sampai Hoddle: Akar Tradisi Merantau

Sebelum gelombang modern, ada sejumlah pionir yang membuka pintu. Paul Gascoigne identik dengan Roma dan gaya busananya yang khas, John Charles membobol gawang-gawang di Turin bersama Juventus, Kevin Keegan memikat tribun Volksparkstadion bersama Hamburg, dan Glenn Hoddle dikenal lewat penampilannya bersama Monaco. Mereka semua adalah pembuka jalan sekaligus penentu tren, dengan kisah yang sampai ke publik Inggris melalui kiriman liputan dari daratan Eropa dan tayangan cuplikan pada Sabtu pagi.

Warisan mereka inilah yang membuat perpindahan pemain Inggris ke luar negeri hari ini terasa lebih mulus. Klub-klub Eropa kini memandang pemain Inggris bukan lagi sebagai barang eksotis, melainkan aset yang bisa langsung berkontribusi. Peringkat ini tetap mengapresiasi jasa para perintis tersebut, namun fokusnya adalah mereka yang berkiprah sejak pergantian abad, dinilai dari trofi, konsistensi performa, dan jejak yang ditinggalkan di klub masing-masing.

Peringkat 10-8: Trippier, Tomori, dan Sancho

10. Kieran Trippier – Atletico Madrid

Di Tottenham, Trippier sempat dianggap sudah tidak dibutuhkan setelah kekalahan di final Liga Champions 2019 dari Liverpool. Ia kemudian membangun ulang kariernya di Spanyol di bawah asuhan Diego Simeone. Bek kanan itu menjadi pemain Inggris pertama yang membela Atletico Madrid hampir seabad, lalu ikut mengantar Los Rojiblancos meraih gelar La Liga kedua sejak pergantian milenium sekaligus memecah dominasi Barcelona dan Real Madrid.

Trofi itu menjadi yang pertama dalam kariernya. Setelah masa singkat di Spanyol, ia kembali ke Premier League dengan kondisi segar dan menikmati periode sukses bersama Newcastle. Singkatnya, Atletico bukan sekadar tempat singgah, melainkan titik di mana kariernya dihidupkan kembali.

9. Fikayo Tomori – AC Milan

Sebelum Tomori, hanya segelintir pemain Inggris yang bisa meraih Scudetto: John Charles dengan tiga gelarnya, Jimmy Greaves bersama Milan pada 1961-62, dan Gerry Hitchens bersama Inter pada musim berikutnya. Penantian panjang itu baru berakhir pada 2020 lewat Aaron Ramsey bersama Juventus, tetapi ekspedisi Ramsey ke Turin berjalan tidak konsisten dan mahal. Ashley Young kemudian membantu Inter juara setelah 11 tahun puasa, namun masa tinggalnya di San Siro hanya 18 bulan.

Karena itu pilihan jatuh kepada Tomori, pilar bertahan Milan. Bek timnas Inggris itu meraih Scudetto 2021-22 dan masuk ke tim terbaik Serie A pada musim tersebut. Meski sempat naik-turun di bawah berbagai pelatih, pemain berusia 28 tahun itu kini menjalani musim ketujuh bersama raksasa Eropa tersebut, sebuah capaian yang impresif justru karena berjalan tanpa banyak sorotan.

8. Jadon Sancho – Borussia Dortmund

Karier Sancho mungkin tidak lagi sesuai ekspektasi setelah ia meninggalkan Jerman dalam transfer senilai £73 juta ke Old Trafford, empat tahun setelah pertama kali hengkang dari Manchester. Namun masa baktinya di Dortmund tetaplah sukses yang tak terbantahkan. Menolak Manchester City dan pindah ke negara baru pada usia 17 tahun adalah keputusan berani, dan keberanian itu terbukti lewat perkembangan pesatnya.

Pada musim keduanya, ia mencetak 12 gol dan 18 assist dalam 34 laga Bundesliga, lalu menorehkan 17 gol pada musim berikutnya. Hingga meninggalkan Dortmund di usia 21 tahun, ia mengumpulkan 50 gol dan 64 assist dari 137 pertandingan di semua kompetisi, menjuarai Piala Jerman, serta finis runner-up pada penghargaan European Golden Boy dan Kopa Trophy untuk pemain muda terbaik dunia.

Lebih dari angka-angka itu, Sancho ikut membuka jalur bagi talenta muda Inggris untuk tumbuh dan berkembang di luar negeri, jalur yang kemudian diikuti banyak pemain setelahnya.

Peringkat 7-5: Beckham, McTominay, dan Hargreaves

7. David Beckham – Real Madrid, LA Galaxy, AC Milan & PSG

Untuk urusan dampak di Major League Soccer, Bradley Wright-Phillips sebenarnya layak disebut. Setelah setengah musim di Brentford di League One, ia pindah ke New York Red Bulls, meraih dua Golden Boot, tiga Supporters’ Shield, dan mencetak lebih dari 100 gol di New York. Namun jika bicara dampak MLS secara keseluruhan, hanya ada satu nama yang menang: Beckham.

Ia menukar kenyamanan sebagai Galactico di Real Madrid, tempatnya menghabiskan empat musim dengan satu gelar La Liga, dengan sambutan ala Hollywood di LA Galaxy. Kehadirannya memang kadang dipertanyakan, terutama saat ia menjalani masa peminjaman di Milan. Meski begitu, sosok kapten timnas Inggris dan bintang global itu mendatangkan perhatian serta daya tarik luar biasa bagi sepak bola Amerika. Ia pun pergi dengan trofi: dua MLS Cup dan dua Supporters’ Shield.

Sebelum menggantung sepatu ikoniknya, ia masih menyempatkan lima bulan di Paris, menjuarai Ligue 1, dan mengucapkan selamat tinggal yang emosional pada 2013.

6. Scott McTominay – Napoli

Mungkin karena tomatnya. McTominay tidak mau menyentuh tomat saat masih di Manchester, tetapi sejak pindah ke Italia selatan ia tampak menikmati masakan Napoli sekaligus sepak bolanya. Pemain kelahiran Lancaster itu menjalani transformasi yang rapi: dari pemain skuad Manchester United menjadi cult hero yang namanya disebut sebaris dengan anak adopsi terbesar Napoli, Diego Maradona.

Dengan sedikit bantuan dari rekannya sesama Skotlandia, Billy Gilmour, ia bersinar di Naples yang obsesif terhadap sepak bola. Ia mengantar Napoli meraih Scudetto keempat dalam sejarah klub lewat 12 gol dari lini tengah pada musim debutnya di Serie A. Berkat pencapaian itu, ia menerima gelar MVP liga.

Setelah finis sebagai runner-up pada musim berikutnya, nama McTominay sudah terukir dalam folklore Napoli, dan tambahan gol berikutnya tinggal menunggu waktu.

5. Owen Hargreaves – Bayern Munich

Hargreaves adalah kasus yang tidak biasa. Ia bisa dibilang bukan ekspor dalam pengertian umum karena lahir dan besar di Kanada, sebelum pindah ke Bayern Munich pada usia 16 tahun. Ia bahkan menjadi satu-satunya pemain yang membela Inggris tanpa pernah tinggal di sana sebelumnya. Namun 42 caps bersama The Three Lions membuat namanya tetap layak masuk daftar ini.

Lahir di Calgary dan sempat memperkuat Wales di level muda, ia mengumpulkan banyak trofi selama tujuh musim di Munich, termasuk empat gelar Bundesliga dan beberapa Piala Jerman. Prestasi paling mengesankannya justru datang di kompetisi Eropa. Pada 2001, saat masih berusia 20 tahun dan belum pernah dipanggil timnas Inggris, ia bermain 120 menit di lini tengah bersama kapten Stefan Effenberg ketika Bayern mengalahkan Valencia lewat adu penalti di San Siro.

Sejumlah pemain Inggris sebelumnya kalah di final Piala Eropa bersama klub asing:

  • Kevin Keegan bersama Hamburg
  • Laurie Cunningham bersama Real Madrid
  • Steve Archibald bersama Barcelona
  • Chris Waddle bersama Marseille

Hargreaves menjadi orang ketiga yang berhasil memenanginya, dengan Paul Lambert bersama Dortmund pada 1997 sebagai yang pertama.

Peringkat 4-3: Bellingham dan Kane

4. Jude Bellingham – Borussia Dortmund & Real Madrid

Bellingham termasuk dalam daftar pesepakbola Inggris yang menjuarai Liga Champions bersama klub asing. Fenomena remaja di Birmingham itu mengikuti pola yang sama dengan Sancho: lebih dulu ke Dortmund, lalu berkembang menjadi salah satu gelandang paling dicari di Eropa. Ia bahkan menjadi pencetak gol termuda Dortmund sekaligus pemain Inggris termuda yang menjadi starter di laga Liga Champions.

Tiga musim produktif di Jerman sudah cukup meyakinkan Real Madrid untuk menyepakati transfer senilai lebih dari £100 juta. Ia langsung tancap gas dengan 23 gol di semua kompetisi ketika Madrid menjuarai La Liga dan Liga Champions, sekaligus finis ketiga dalam Ballon d’Or tahun itu.

Persaingan antara dirinya dan Kane sebenarnya sangat ketat. Bellingham punya gelar juara Eropa, tetapi performa individual Kane di Bayern terlalu mencolok untuk diabaikan, sehingga gelandang itu harus puas di posisi keempat.

3. Harry Kane – Bayern Munich

Kane mencetak 101 gol Bundesliga hanya dalam 98 pertandingan, dan secara keseluruhan menorehkan 152 gol dari 154 laga untuk Bayern Munich. Angka-angka itu membuat performa individunya terasa nyaris tidak masuk akal, sekaligus alasan ia berada di posisi ketiga.

Kapten The Three Lions itu memecahkan berbagai rekor di Bavaria. Ia meraih European Golden Shoe pada musim debutnya, orang Inggris pertama sejak Kevin Phillips yang menerima penghargaan tersebut, dan menjadi pemain tercepat dalam sejarah Bundesliga yang mencapai 100 gol.

Kane juga akhirnya mengangkat trofi tim yang lama ia rindukan: dua gelar Bundesliga dan satu Piala Jerman kini ada di catatannya. Namun Liga Champions, dan mungkin juga Ballon d’Or, masih menjadi target utama yang belum terwujud.

Peringkat 2-1: McManaman dan Bale

2. Steve McManaman – Real Madrid

Mungkinkah McManaman kurang dihargai? Ia sepertinya tidak mengumpulkan caps timnas Inggris sebanyak yang layak diterimanya. Caps terakhir dari total 37 penampilannya justru datang sebelum ia meraih Liga Champions kedua bersama Madrid, padahal rekan setim seperti Zinedine Zidane menyerukan agar ia dipanggil kembali.

Kepindahannya ke Madrid pada musim panas 1999 terbilang unik. Ia adalah pemain Inggris pertama sejak Laurie Cunningham pada 1982 yang membela Los Merengues, sekaligus yang pertama pindah ke Bernabeu langsung dari Premier League. Perpindahan itu terjadi ketika sepak bola Spanyol masih sulit diakses penonton Inggris, sebelum era keemasan Revista de la Liga, sehingga McManaman yang terkenal lewat dribel dan kreativitasnya terasa seperti sosok yang misterius.

Meski begitu, pemain kelahiran Bootle itu menikmati empat musim yang mengesankan di Spanyol. Ia mencetak gol voli ke gawang Valencia di final Liga Champions 2000, lalu masuk dari bangku cadangan untuk meraih medali juara lagi dua tahun kemudian, ditambah dua gelar La Liga.

1. Gareth Bale – Real Madrid & LAFC

Untuk posisi teratas, tidak ada keraguan sama sekali. Gareth Bale memiliki medali juara Liga Champions lebih banyak dibanding gabungan seluruh nama lain dalam daftar ini, yakni lima trofi yang diraih dalam rentang sembilan tahun ketika Real Madrid mendominasi kompetisi paling bergengsi di Eropa tersebut. Prestasi itu bahkan membuka perdebatan apakah ia adalah ekspor terbaik Inggris Raya sepanjang masa, bukan hanya sejak pergantian abad.

Komitmen Bale terhadap Los Blancos memang kadang dipertanyakan, termasuk ketika ia pernah mengibarkan bendera yang menyebut Wales dan golf sebagai prioritasnya. Namun kontribusinya tetap impresif, dan ia menegaskan selalu memberikan segalanya untuk Real. Penyerang cepat itu mencetak 106 gol dalam 258 pertandingan, tiga di antaranya lahir di final Liga Champions, termasuk gol salto yang luar biasa pada 2018.

Masa singkatnya di Los Angeles sebelum pensiun memang kurang berkesan, tetapi tetap menghasilkan Supporters’ Shield dan gelar MLS Cup. Pada laga penentu itu, ia mencetak gol penyama di menit-menit akhir sebelum LAFC menang lewat adu penalti.

Apa Artinya bagi Klub, Liga, dan Pemain Inggris di Luar Negeri

Peringkat ini memperlihatkan satu pola yang jelas: berkarier di luar negeri bukan lagi pilihan darurat bagi pemain Inggris, melainkan jalur strategis yang bisa mempercepat perkembangan. Dortmund, misalnya, membuktikan diri sebagai batu loncatan yang efektif bagi Sancho dan Bellingham sebelum keduanya melangkah ke klub yang lebih besar. Sementara itu, Serie A menjadi tempat pembuktian bagi pemain yang dianggap sudah mentok di klub lamanya, seperti yang dialami Tomori dan McTominay.

Bagi klub-klub Premier League, fenomena ini punya dua sisi. Tottenham kehilangan Trippier yang kemudian bangkit bersama Atletico, dan Manchester United melepas Sancho serta McTominay yang justru bersinar di tempat baru. Di sisi lain, pengalaman berkarier di luar negeri terbukti mengembalikan performa pemain, sehingga nilai jual dan kualitas mereka ikut naik ketika kembali ke Inggris.

Bagi liga tujuan, kehadiran pemain Inggris juga menambah daya tarik komersial. Contoh paling jelas adalah Beckham, yang kedatangannya ke MLS mendatangkan perhatian besar bagi sepak bola Amerika. Efek serupa kini terasa di Italia, di mana kehadiran pemain Inggris dan Skotlandia menambah lapisan minat baru pada Serie A.

Tren yang Kemungkinan Terus Berlanjut

Delapan pemain dari skuad Piala Dunia terakhir Inggris bermain di luar negeri, dan Skotlandia bahkan punya lebih banyak lagi, terutama di Serie A. Fakta itu menunjukkan bahwa arus ini bukan anomali musiman, melainkan tren struktural yang berakar pada terbukanya pasar transfer dan makin mudahnya akses informasi antarliga. Pemain muda kini melihat contoh nyata bahwa berkarier di Jerman, Spanyol, atau Italia bisa menjadi jalan menuju level tertinggi.

Keberhasilan McTominay dan Gilmour di Napoli, ditambah catatan Tomori di Milan, memberi alasan bagi pemain Inggris dan Skotlandia lain untuk mempertimbangkan Italia sebagai tujuan serius, bukan pilihan terakhir. Dengan semakin banyaknya contoh sukses, bukan hal mustahil bila jumlah pemain Inggris Raya di luar negeri terus bertambah dalam beberapa musim ke depan.

Pertanyaan berikutnya adalah siapa yang bisa menambah koleksi trofi Liga Champions di luar negeri. Kane masih mengejar gelar itu bersama Bayern, sementara Bellingham sudah mengalaminya bersama Real Madrid. Bila pola ini berlanjut, bukan tidak mungkin generasi berikutnya akan menyusul jejak mereka.

Kesimpulan

Dari sepuluh nama dalam peringkat ini, Gareth Bale menempati posisi puncak berkat lima medali Liga Champions, disusul Steve McManaman yang sering kurang dihargai meski menorehkan empat musim impresif di Madrid. Di bawah mereka ada Kane dan Bellingham yang masih aktif dan berpeluang besar menambah koleksi trofi, sementara nama-nama seperti Beckham, Hargreaves, McTominay, Sancho, Tomori, dan Trippier menunjukkan bahwa jalur karier di luar negeri bisa membawa hasil berbeda-beda, tetapi sama-sama berdampak besar.

Yang paling menarik, perjalanan mereka kini menjadi peta jalan bagi pemain berikutnya. Apa yang dulu dimulai oleh segelintir pionir dengan kisah-kisah yang sampai ke Inggris lewat kiriman dari benua Eropa, sekarang menjadi pilihan karier yang wajar dan terukur.