Vonis yang ditunggu-tunggu penggemar sepak bola di seluruh dunia akhirnya keluar: Manchester City dinyatakan bersalah. Klub itu tetap bersikeras tidak melakukan pelanggaran atas tuduhan aturan keuangan yang pertama kali dilayangkan Premier League pada 2023, dan mereka masih memiliki hak untuk mengajukan banding. Karena itu, babak baru dari perkara Manchester City bersalah ini masih jauh dari kata selesai.
Keputusan komisi independen tersebut langsung memicu sejumlah pertanyaan besar, baik untuk masa dekat maupun jangka panjang. Regulator Sepak Bola Independen atau IFR menilai putusan itu memunculkan “isu serius” yang perlu dicermati. Di tengah situasi ini, publik mempertanyakan apa yang akan terjadi selanjutnya, seberapa berat hukuman yang menanti, hingga apakah sanksi bisa berujung pada degradasi atau bahkan pengeluaran klub dari kompetisi.
Berikut sejumlah pertanyaan kunci seputar kasus ini beserta hal-hal yang sudah diketahui sejauh ini.
Apa yang Terjadi Berikutnya dan Kapan?
Batas waktu bagi Manchester City untuk mengajukan banding jatuh pada hari Jumat. Preseden dari kasus sebelumnya menunjukkan bahwa banding biasanya didengar dan diputus lebih dulu sebelum sanksi diumumkan. Ketika Everton dan Nottingham Forest dinyatakan bersalah melanggar aturan pengeluaran, banding mereka diproses lebih dahulu, baru kemudian klub mengajukan banding atas sanksi dan hukuman mereka dikurangi. Pola itu memberi gambaran bahwa banding City kemungkinan besar akan dipertimbangkan dan diputus sebelum bentuk hukuman resmi diumumkan, meski hal itu tidak bisa dijamin sepenuhnya.
Banding tersebut akan didengar oleh komisi baru yang beranggotakan tiga orang, dan sampai sekarang belum jelas berapa lama prosesnya akan berjalan. Salah satu bagian regulasi Premier League menyebutkan bahwa banding seharusnya rampung paling lambat 12 minggu setelah diajukan, dengan keputusan diambil dalam 30 hari setelah proses banding berakhir. Prosedur bisa dipercepat untuk mengejar tenggat tertentu, misalnya menjelang berakhirnya musim liga.
Manchester City tidak dapat mengajukan banding lanjutan ke Court of Arbitration for Sport (CAS). Namun, ada kemungkinan mereka membawa perkara ini ke High Court dengan dalih proses yang berjalan tidak imparsial. Jalur hukum semacam ini akan menambah panjang dan rumitnya rangkaian perkara yang sudah berlangsung.
Dalam pernyataan resminya yang mengumumkan vonis bersalah pada Senin, Premier League menegaskan ingin proses ini “diselesaikan secepat mungkin”. Komisi independen pun mengakui bahwa waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan keputusan jauh lebih lama dari yang mereka harapkan maupun perkirakan sejak sidang berakhir, dan menyebutnya sebagai hal yang patut disesalkan. Nada pernyataan tersebut menunjukkan bahwa hampir semua pihak berkepentingan ingin perkara ini tuntas secepat mungkin.
Bagaimana Skenario Degradasi atau Ekspulsi Bekerja?
Ada dua skenario utama yang mungkin terjadi. Skenario pertama, salah satu sanksi yang dijatuhkan kepada Manchester City berupa pengurangan poin yang begitu besar sehingga mereka mengakhiri musim ini dalam posisi tiga terbawah Premier League dan otomatis terdegradasi ke Championship. Jika prosesnya berlarut, hukuman serupa bisa saja baru berlaku pada musim berikutnya.
Skenario kedua adalah klub dikeluarkan dari Premier League. Untuk itu, dibutuhkan persetujuan 15 klub rival yang memberikan suara mendukung mosi pengeluaran tersebut. Bila hal ini terjadi, masa depan klub menjadi jauh lebih tidak jelas karena mereka harus mengajukan permohonan masuk kembali kepada Football Association (FA).
Karena EFL dan National League merupakan entitas terpisah dari Premier League, keduanya tidak otomatis berkewajiban menerima permohonan masuk dari Manchester City. Bahkan seandainya EFL menyetujui permohonan itu, 72 klub anggotanya tetap harus melakukan pemungutan suara untuk menentukan diterima atau tidak. Dari sinilah muncul kemungkinan City memulai kembali perjalanan dari League Two, atau bahkan dari level yang lebih rendah lagi.
Terdapat perbedaan besar secara sportif dan finansial antara turun ke Championship dengan peluang besar langsung promosi kembali dalam satu musim, dan memulai lagi dari dasar piramida sepak bola Inggris. Ketika Juventus terdegradasi dari Serie A ke Serie B pada 2006 setelah dinyatakan bersalah atas tuduhan pengaturan pertandingan, mereka masih mampu mempertahankan sejumlah pemain terbaik dunia seperti Gianluigi Buffon, Pavel Nedved, dan David Trezeguet. Para pemain itu rela melewati satu musim di kasta bawah, dan setelah menjuarai Serie B, Juventus langsung finis ketiga di Serie A sekaligus lolos ke Liga Champions. Jika City hanya absen satu musim dari Premier League, pemain dengan kontrak panjang dan mahal kemungkinan besar lebih memilih bertahan, dan kerugian ekonomi akibat kehilangan pendapatan hak siar kasta teratas bisa ditekan jauh lebih kecil.
Bisakah Perkara Ini Berlanjut ke Penyelidikan Pidana?
Fraud Act 2006 menyatakan bahwa membuat representasi palsu secara tidak jujur dengan maksud memperoleh keuntungan atau menghindari kerugian dapat berujung pada hukuman penjara 10 tahun dan denda tanpa batas, apabila tuduhan tersebut diajukan dan berhasil dibuktikan. Aturan ini membuka kemungkinan bahwa persoalan City tidak berhenti sekadar sebagai pelanggaran aturan sepak bola.
“Temuan soal Manchester City ini jelas sudah menjadi urusan polisi,” ujar Lord Cruddas, seorang bankir dan pengusaha, seperti dikutip dalam sumber. Menurutnya, jika laporan keuangan dipalsukan dan auditor dibohongi, maka kasus ini berpotensi menjadi perkara pidana. Ia juga menyoroti bahwa auditor akan memanggil polisi, dan para direktur bertanggung jawab secara pribadi atas segala bentuk kecurangan perusahaan Inggris, bahkan ketika perusahaan tersebut dimiliki pihak asing.
Untuk berpindah dari pelanggaran sepak bola menjadi perkara yang lebih serius, dibutuhkan penyelidikan lebih dulu oleh otoritas terkait. Lembaga yang berwenang menyelidiki potensi kejahatan keuangan di Inggris antara lain kepolisian daerah, National Crime Agency, HMRC, dan Serious Fraud Office. BBC Sport telah menghubungi masing-masing lembaga tersebut dan tidak mendapat indikasi bahwa penyelidikan telah dimulai, meski sebagian lembaga memang tidak rutin mengonfirmasi adanya penyelidikan karena alasan kerahasiaan. Greater Manchester Police menyatakan bahwa belum ada rujukan yang dilakukan otoritas terkait berkaitan dengan dugaan tindak pidana apa pun.
Mantan ketua Manchester City, David Bernstein, yang meninggalkan klub lima tahun sebelum pemilik saat ini mengambil alih, mengangkat kemungkinan tersebut dalam wawancara di BBC Radio 5 Live. Ia menilai persoalan ini sangat serius dan mempertanyakan apakah sebagian isu perlu dirujuk kepada otoritas di luar liga. Bernstein juga mempertanyakan apakah jajaran direksi bisa terus melanjutkan tugas, dan apakah pihak-pihak yang terlibat seharusnya langsung diskors. Sementara itu, pakar keuangan sepak bola Kieran Maguire menilai penyelidikan yang lebih luas kemungkinan kecil terjadi, karena HMRC mungkin mempertimbangkannya tetapi tidak punya banyak pijakan, dan tidak ada pajak korporasi yang bisa dipulihkan dari klub yang memang merugi.
Mungkinkah Pemilik Klub Dipaksa Keluar?
Sejak kabar vonis bersalah pertama kali mencuat, penggemar dan pengamat terus melontarkan pertanyaan yang sama: jika aturan dilanggar secara sengaja selama sembilan tahun, bagaimana pemilik klub bisa dipercaya untuk mengelola Manchester City ke depannya. Pertanyaan itu kini mengarah pada peran IFR, yang dibentuk pada 2025 dengan tujuan melindungi warisan sepak bola Inggris, memastikan kesehatan finansial klub, serta mendorong ketahanan dalam hal kepemilikan dan pengeluaran klub.
IFR memberikan lisensi kepada seluruh 116 klub di lima kasta teratas sepak bola Inggris, dan lisensi itulah yang membuat mereka boleh beroperasi. Pemilik klub, direktur, dan eksekutif senior tunduk pada kerangka kelayakan yang diperkuat, semacam versi lebih ketat dari uji kelayakan kepemilikan yang selama ini dikenal. Football Governance Act 2025 memberi IFR wewenang untuk menangguhkan atau mencabut lisensi klub sebagai langkah terakhir dalam kasus pelanggaran.
Ketua IFR, David Kogan, menyatakan bahwa lembaganya punya kewenangan menilai kelayakan pemilik, direktur, dan eksekutif, dan akan menggunakannya bila diperlukan demi melindungi keberlanjutan, kejujuran, serta integritas sepak bola Inggris ketika ada bukti jelas adanya pelanggaran oleh individu. Ia menambahkan bahwa penilaian itu termasuk mempertimbangkan temuan yang dibuat liga. Namun, karena proses antara Manchester City dan Premier League masih berjalan, IFR memilih menunggu perkembangan lebih lanjut dan berharap persoalan ini bisa segera diselesaikan demi kepentingan para penggemar.
Ada pula skenario lain yang mungkin terjadi, yakni intervensi pemerintah. Pada 2022, Roman Abramovich dipaksa menjual Chelsea oleh pemerintah Inggris setelah Rusia melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina. Latar belakangnya sebagai oligark membuat asetnya dibekukan dan pemerintah mengancam melakukan penyitaan penuh, sehingga dalam waktu tiga bulan klub sudah memiliki pemilik baru. Pemilik Manchester City saat ini tidak sedang dikenai tindakan apa pun oleh pemerintah Inggris, dan yang secara resmi dinyatakan sejauh ini hanyalah bahwa klub melanggar aturan keuangan sepak bola. Meski begitu, preseden bahwa pemerintah dapat terlibat dalam proses penggusuran pemilik klub sudah ada. Hubungan antara Inggris dan Uni Emirat Arab, yang keluarganya mengendalikan grup pemilik City, sebelumnya kuat, tetapi dalam beberapa tahun terakhir melemah. Segala bentuk upaya penggusuran akan menjadi ujian diplomasi yang sangat berat.
Dampak Vonis Manchester City Bersalah bagi Persaingan Premier League
Manchester City saat ini memuncaki klasemen Premier League dengan raihan poin maksimal, 15 angka dari lima pertandingan pembuka. Namun, apakah mereka benar-benar terlibat dalam perebutan gelar masih sulit dinilai selama para pemain, penggemar, dan pemilik klub belum mengetahui bentuk hukuman yang menanti. Ketidakpastian ini membuat dinamika kompetisi berjalan di atas fondasi yang goyah.
Jika proses banding dan penjatuhan sanksi berlarut hingga melewati akhir musim, bukan tidak mungkin muncul gugatan hukum dari pihak lain. Klub yang finis di bawah City di klasemen, klub yang terdegradasi, atau tim yang tersingkir oleh mereka di kompetisi domestik berpotensi membawa perkara ke ranah hukum. Peluang gugatan semacam itu jauh lebih kecil apabila posisi “sebenarnya” City sudah diketahui sebelum kompetisi berakhir.
Karena itu, kejelasan menjadi kepentingan bersama, bukan hanya bagi Manchester City, tetapi juga bagi seluruh klub di Premier League dan English Football League. Semakin cepat semua pihak tahu di mana mereka berdiri, semakin kecil risiko munculnya sengketa baru yang menyeret kompetisi ke ruang sidang.
Penutup
Vonis bersalah terhadap Manchester City membuka babak yang penuh tanda tanya: tenggat banding pada Jumat, proses di komisi tiga orang yang belum jelas durasinya, hingga spektrum sanksi yang membentang dari pengurangan poin sampai pengeluaran dari liga. Di luar lapangan, muncul pula pertanyaan soal kemungkinan penyelidikan pidana dan nasib pemilik klub, yang kini berada dalam pantauan IFR. Preseden Juventus pada 2006 maupun kasus Chelsea pada 2022 memperlihatkan bahwa dalam sepak bola, sanksi terberat dan intervensi dari luar kompetisi bukanlah hal yang mustahil.
Yang paling dinanti tentu kepastian. Selama banding belum diputus dan sanksi belum diumumkan, Manchester City, para rivalnya, dan seluruh penggemar sepak bola Inggris hanya bisa menunggu sambil menimbang berbagai kemungkinan yang ada.
