Kalender sepak bola level elite kembali menjadi sorotan setelah 25 pemain Premier League yang dipanggil negaranya menuntaskan 360 menit penuh, atau setara empat pertandingan, selama jeda internasional panjang baru-baru ini. Sebagian dari mereka bahkan baru saja melewati musim yang sangat padat, termasuk kapten Liverpool, Virgil van Dijk, yang mencatat 55 pertandingan bersama klubnya pada musim lalu.
Angka tersebut bukan kasus terisolasi. Van Dijk hanya satu dari sejumlah pemain yang menembus lebih dari 4.000 menit bermain di semua kompetisi pada 2025-26, dan kini mengawali musim baru dengan pola yang mirip. Kondisi ini membuat para ahli ilmu keolahragaan dan psikologi mempertanyakan apakah kalender sepak bola modern masih bisa dijalani pemain tanpa mengorbankan kualitas maupun kesehatan mereka.
Beban 4.000 Menit dan 55 Laga dalam Semusim
Dari seluruh pemain Premier League yang mendapat panggilan negara, 25 orang bermain penuh selama 360 menit pada jeda internasional yang diperpanjang. Jumlah itu setara dengan empat laga penuh, sebuah beban yang biasanya baru dijumpai pada fase padat kompetisi domestik atau turnamen besar, bukan pada periode jeda di awal musim.
Sebanyak 13 di antara pemain tersebut juga terlibat untuk klubnya di Piala Dunia, sehingga masa istirahat mereka di musim panas nyaris tidak ada. Van Dijk menjadi contoh paling mencolok karena selain memperkuat negaranya, ia sudah menjalani 55 pertandingan bersama Liverpool pada musim sebelumnya.
Nama-nama seperti Declan Rice, Morgan Rogers, dan Harry Kane disebut-sebut berada dalam kelompok yang menembus 4.000 menit bermain di semua kompetisi sepanjang 2025-26. Menariknya, pola beban serupa sudah terlihat kembali pada awal musim ini, menandakan bahwa jeda pendek di antara musim tidak cukup untuk memulihkan kondisi mereka.
Mengapa Kalender Sepak Bola Elite Disebut Tak Berkelanjutan
Dr Dave Richardson, kepala bidang psikologi, ilmu keolahragaan, dan kesejahteraan di University of Lincoln, menilai situasi ini tidak bisa terus dipertahankan. Kepada BBC Sport, ia menyatakan bahwa pola jadwal seperti sekarang tidak berkelanjutan dan cepat atau lambat akan memicu protes dari penonton.
Menurutnya, publik akan mulai bersuara ketika kualitas pertandingan menurun, karena mereka membayar untuk menyaksikan permainan berkualitas tinggi. Artinya, dampak jadwal padat tidak hanya dirasakan pemain, tetapi juga berpotensi merusak nilai jual kompetisi itu sendiri.
Maheta Molango, CEO Asosiasi Pemain Sepak Bola Profesional (PFA), menyebut sistem yang ada saat ini sebagai sesuatu yang “sakit”. Ia menyoroti realitas ketika lima pemain Inggris harus menarik diri dari skuad, padahal panggilan ke tim nasional adalah salah satu momen paling membanggakan dalam karier seorang pesepak bola.
Molango menegaskan bahwa para pemain sebenarnya sangat ingin membela negaranya, tetapi tubuh mereka punya batas yang tidak bisa ditawar. Ia mengusulkan adanya libur musim panas wajib selama tiga pekan serta periode “pelatihan ulang” selama tiga pekan setiap tahunnya. Namun, ia menilai batas biologis tetap tidak bisa dilanggar hanya dengan mengatur ulang kalender.
Absennya Bintang dari Timnas sebagai Sinyal Bahaya
Indikasi bahwa jadwal padat mulai berefek nyata terlihat dari keputusan sejumlah pemain mundur dari tim nasional. Lima pemain Inggris, yakni Cole Palmer, Marcus Rashford, Rice, Kobbie Mainoo, dan Tino Livramento, menarik diri dari skuad sebelum jendela internasional terakhir.
Fenomena serupa terjadi di tim lain. Kai Havertz dari Jerman dan kapten Prancis, Kylian Mbappe, juga memutuskan tidak memperkuat negaranya pada jeda internasional terbaru. Pola ini memperkuat dugaan bahwa keputusan mereka bukan soal kurangnya nasionalisme, melainkan soal kondisi fisik yang sudah menipis.
Bagi Molango, gelombang pengunduran diri tersebut adalah cerminan langsung dari sistem yang terlalu menuntut. Ketika pemain yang paling ingin tampil pun harus mengalah pada kondisi tubuhnya, pertanyaannya bukan lagi soal motivasi, melainkan soal apakah industri ini sudah salah mengatur beban kerjanya.
Tekanan Mental, Stigma, dan Cara Pemain Bertahan
Dr Chris James, pakar pengaruh tidur terhadap performa olahraga sekaligus dosen psikologi di Cardiff University, menilai sepak bola pria gagal menjalankan kewajiban menjaga pemainnya. Ia menyebut ada budaya di mana pemain dituntut terlihat selalu mampu mengatasi semuanya, apa pun kondisinya.
Ia membandingkan sikap terhadap kesehatan mental di sepak bola pria dengan pandangan yang tertinggal di masa lalu. Menurutnya, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mematahkan stigma dan menempatkan kesehatan mental sejajar dengan kesehatan fisik. Ia mengaku lebih sering mendiskusikan hal ini di sepak bola pria dibandingkan sepak bola wanita.
James juga menyoroti munculnya mekanisme penyesuaian diri di kalangan pemain, termasuk penggunaan snus, untuk tetap fokus di tengah tuntutan pertandingan. Padahal, ia menegaskan sepak bola belum benar-benar menghargai proses pemulihan, baik secara fisik maupun psikologis, yang dibutuhkan pemain.
Menurutnya, pemain perlu tetap merasa sebagai manusia, bukan sekadar mesin pertandingan. Semakin padat jadwal, semakin sulit pula melepaskan diri secara mental dari tanggung jawab profesional, sementara pemulihan sejati justru menuntut jarak dari rutinitas tersebut.
Beban fisik yang berlebihan berpotensi memicu cedera, dan cedera itu sendiri membawa dampak psikologis besar. James menyebut hal ini memunculkan stres tambahan berupa pertanyaan identitas, seperti siapa diri mereka jika tidak bisa bermain, plus kekhawatiran soal kontrak. Karena itu, ia menilai edukasi soal manfaat waktu istirahat menjadi kunci, sebab merasa baik-baik saja saat bermain terus-menerus tidak berarti kondisi itu baik untuk mereka.
Sudut Pandang Pemain: Mereka Tetap Ingin Bermain
Mantan bek Inggris, Matt Upson, saat berbicara di BBC Radio 5 Live dalam laga Nations League melawan Republik Ceko di kandang, melihat sisi positif dan negatif dari jeda internasional yang diperpanjang. Menurutnya, periode intens bersama tim nasional bermanfaat untuk meruntuhkan sekat di ruang ganti dan memberi pelatih waktu lebih banyak di lapangan latihan.
Meski demikian, ia menilai empat pertandingan dalam satu periode jeda terlalu banyak pada tahap awal musim, terlebih setelah musim panas yang juga diisi kompetisi. Artinya, manfaat kebersamaan tim harus dibayar dengan beban tambahan yang menumpuk di tubuh para pemain.
Rekan setimnya di tim nasional, Paul Robinson, berpendapat bahwa yang dibutuhkan adalah persiapan dan fasilitas yang memadai di antara pertandingan, bukan pengurangan menit bermain. Ia menggambarkan ritme pertengahan musim sebagai dua hari persiapan menjelang laga, lalu dua hari pemulihan, sehingga waktu yang tersedia untuk berlatih memang jauh lebih singkat, dan hari pemulihan sama pentingnya dengan hari persiapan.
Namun Robinson meyakini bahwa dari sudut pandang pemain, jadwal padat tidak jadi masalah besar selama mereka bisa mengatur diri di antara pertandingan. Ia memberi contoh: jika Norwegia dan Inggris sama-sama lolos ke final Nations League musim panas mendatang, dan pelatih masing-masing menawarkan tiga pekan libur kepada Erling Haaland dan Harry Kane, keduanya hampir pasti akan menolak dan memilih tetap bertanding.
Jalan Keluar yang Belum Terlihat
Berbagai usulan perbaikan sebenarnya sudah muncul, termasuk gagasan libur wajib dan periode pemulihan tahunan dari PFA. Namun Dr Richardson menilai hal itu sulit diterapkan dalam sistem badan olahraga yang terpecah seperti sekarang, karena tidak ada satu lembaga pun yang menaungi seluruh jadwal pertandingan.
Setiap penyelenggara, menurutnya, cenderung ingin tampil dominan dan berlomba menjadi sorotan dengan mengunggulkan produknya masing-masing. Tanpa adanya badan independen yang menaungi semuanya, ia pesimistis perubahan besar bisa terwujud.
Situasi bertambah rumit dengan hadirnya Piala Dunia Antar Klub, potensi perluasan Piala Dunia, serta tidak adanya tanda pengurangan jumlah pertandingan di Premier League, kompetisi domestik, maupun turnamen UEFA. Di sisi lain, beberapa klub dinilai lebih baik dalam mendukung pemain, dan Richardson menyebut Brentford memiliki tim psikologi olahraga yang kuat sebagai contoh praktik yang bisa ditiru.
Richardson menambahkan bahwa para pemain sesungguhnya nyaris tidak punya kendali atas kalender kompetisi. Sikap mundur dari tim nasional, menurutnya, adalah bentuk keterbatasan pilihan, diperparah rasa takut kehilangan tempat dalam rantai persiapan tim.
Kesimpulan
Persoalan kalender sepak bola yang super padat bukan lagi sekadar keluhan soal rasa lelah. Data menunjukkan puluhan pemain menembus ribuan menit bermain setiap musim, sementara pengunduran diri sejumlah bintang dari tim nasional menjadi tanda bahwa batas tubuh manusia sudah mulai terasa, dan dampaknya menyentuh kesehatan mental maupun kualitas pertandingan.
Berbagai pihak sepakat bahwa solusi ideal membutuhkan koordinasi lintas badan penyelenggara yang saat ini belum ada. Tanpa perubahan struktur yang mendasar, para pemain akan terus berada di posisi sulit: dipaksa memilih antara tampil dan kehilangan tempat, atau beristirahat dan berisiko dicap tidak loyal. Situasi yang oleh Richardson sendiri digambarkan sebagai serba salah, apa pun keputusan yang diambil.
