Duel Liverpool vs Man City di Anfield pada Minggu bukan sekadar pertandingan biasa di Premier League. Manchester City datang sebagai pemuncak klasemen dengan rekor sempurna lima kemenangan dari lima laga, sementara Liverpool menanti kesempatan menyalakan musim mereka sendiri di depan pendukung sendiri. Bagi tim tamu, mempertahankan catatan 100 persen itu akan menjadi pencapaian besar; bagi tuan rumah, ini momen untuk menunjukkan bahwa mereka masih layak diperhitungkan.
Yang membuat laga ini terasa berbeda adalah latar belakang yang menyertainya. Sebuah komisi independen telah menyatakan City bersalah atas sebagian besar dari 115 dakwaan yang diajukan Premier League, dan banding klub masih menunggu keputusan. Artinya, saat bola mulai bergulir, para pemain asuhan Enzo Maresca harus menghadapi apa yang disebut sebagai “kondisi normal baru” mereka: bertanding di salah satu stadion paling menekan di Inggris sambil memikul pertanyaan tentang keabsahan gelar-gelar yang telah mereka raih.
Liverpool vs Man City: Rekor Sempurna City Diuji di Anfield
City melangkah ke Anfield dengan modal lima kemenangan beruntun di Premier League musim ini. Mereka berada di puncak klasemen, dan menjaga tren positif tersebut jelas bukan perkara mudah mengingat lawan yang dihadapi serta suasana stadion yang terkenal garang. Jika Maresca mampu mempertahankan rekor sempurna itu, dampaknya akan sangat besar bagi kepercayaan diri skuadnya.
Dari kubu Liverpool, pelatih Andoni Iraola menyambut laga ini dengan antusias. Ia menyebut pertandingan tersebut sebagai laga yang menarik karena mempertemukan timnya dengan pemuncak klasemen yang belum pernah kehilangan poin. Menurutnya, kedua tim akan sama-sama bermain untuk menang sehingga pertandingan berpotensi berlangsung terbuka dan menuntut kesiapan maksimal dari para pemainnya.
Iraola juga berharap Liverpool bisa tampil setara dengan level permainan yang diprediksi tinggi. Ketika ditanya apakah laga seperti ini adalah jenis pertandingan yang ia dambakan sejak mengambil alih kursi pelatih, ia menjawab tegas bahwa timnya memang ada di sana untuk memainkan pertandingan sebesar ini. Ia mengakui City adalah tim yang sangat bagus, tetapi menegaskan Liverpool juga tidak kalah berkualitas.
Bayang-Bayang Dakwaan dan Momen Desember 2024
Untuk memahami mengapa laga ini terasa begitu sarat muatan, kita perlu menengok kembali ke Desember 2024. Saat itu, tim Manchester City besutan Pep Guardiola tertinggal 2-0 di kandang Liverpool, dan penonton Anfield meneriakkan nyanyian yang menyasar sang pelatih lawan, “you’re getting sacked in the morning”. Tidak ada yang benar-benar percaya Guardiola akan dipecat, tetapi timnya memang sedang menuju kekalahan liga keempat berturut-turut yang tergolong luar biasa.
Guardiola merespons dengan mengangkat enam jari ke arah tribun Liverpool, sebuah gestur yang merujuk pada enam gelar Premier League yang ia persembahkan untuk City. Kini, pertanyaan soal legitimasi setiap gelar itu kembali mengemuka setelah temuan komisi independen tersebut. Pada Jumat, Maresca menyatakan bahwa gelar-gelar klubnya “sama sekali tidak” ternoda, meski ia dan para pemainnya tetap harus berhadapan dengan kenyataan baru itu di lapangan.
Laga ini juga menjadi yang pertama sejak 2015 tanpa kehadiran Jurgen Klopp maupun Guardiola di pinggir lapangan. Meski demikian, atmosfer bermusuhan tetap diperkirakan menyambut rombongan City, dan ketua Liverpool, Tom Werner, dikabarkan akan hadir langsung. Liverpool sendiri pernah finis sebagai runner-up di belakang City pada 2013-14 di bawah Brendan Rodgers, lalu kembali pada 2018-19 dan 2021-22 ketika tim asuhan Klopp mengumpulkan 97 dan 92 poin tetapi tetap kalah tipis dalam perburuan gelar.
Apa Artinya bagi City, Liverpool, dan Persaingan Gelar
Bagi City, hasil di Anfield akan menjadi penanda seberapa kokoh mental skuad menghadapi tekanan di luar lapangan. Maresca harus menjaga fokus pemain di tengah sorotan soal dakwaan dan proses banding yang belum selesai. Klub bersikeras tidak bersalah, namun suasana pertandingan diperkirakan akan menguji ketahanan mereka secara psikologis, bukan hanya taktis.
Di sisi Liverpool, sebagian pendukung maupun mantan pemain dan staf merasa dirugikan oleh temuan tersebut. John Achterberg, yang pernah menjadi pelatih kiper Liverpool di era Rodgers dan Klopp, mengungkapkan bahwa muncul pikiran tentang kenangan dan kesuksesan yang menurutnya direnggut secara tidak adil. Ia menyebut Liverpool hanya meraih satu gelar Premier League pada 2019-20, padahal menurutnya bisa jadi empat gelar mengingat tiga kali mereka kalah dari City dengan selisih yang sangat tipis.
Iraola sendiri menilai hal terburuk dari situasi ini adalah ketidakpastian, karena tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Karena itu, ia memilih mengarahkan fokus ke Liverpool dan berusaha menjadikan klub serta timnya sebaik mungkin. Tantangan itulah yang ia sebut sebagai tugas utamanya saat ini.
Anfield dan Rivalitas yang Tak Pernah Dingin
Liverpool memang punya rivalitas historis dengan sisi merah Manchester, tetapi sejak City diakuisisi Abu Dhabi pada 2008, pertemuan kedua tim rutin menghadirkan drama, baik di dalam maupun di luar lapangan. Pada 2018, Liverpool didenda 20.000 euro oleh Uefa setelah pendukungnya melemparkan benda ke bus City sebelum leg pertama perempat final Liga Champions di Anfield. Dalam laga itu, Liverpool mencetak tiga gol hanya dalam 19 menit babak pertama dan menyingkirkan City dari kompetisi.
Sebelumnya pada Januari musim yang sama, Klopp dan pasukannya mengakhiri catatan tak terkalahkan City di liga lewat kemenangan dramatis 4-3 di Anfield. Guardiola pernah menggambarkan suasana stadion itu pada 2019 dengan cara yang sulit dilupakan: ada sesuatu yang hanya bisa ditemukan di sana, ketika lawan mencetak gol dan dalam lima menit berikutnya Anda merasa akan kebobolan empat gol lagi. Ia mengaku merasa kecil dan melihat para pemain lawan seolah mengepung dari segala arah.
Pengamanan, Bendera, dan Rencana Suporter
Kepolisian Merseyside menyatakan akan menerapkan rencana pengamanan yang sesuai untuk laga hari Minggu, tetapi memilih tidak memerinci langkah-langkahnya ketika dimintai keterangan oleh BBC Sport. Harapan bahwa bus tim akan disambut oleh suporter kian menguat, dan poster-poster di media sosial mengiklankan sebuah “Bus Greeting” di Anfield Road. Belum jelas apakah rute bus akan diubah, meskipun hal serupa pernah dilakukan sebelumnya di Anfield.
Di dalam stadion, Liverpool terkenal lewat koleksi spanduk dan bendera mereka, dan banyak yang sudah direncanakan untuk laga ini. Playlist lagu sebelum pertandingan juga layak dicermati, karena bisa menjadi bagian dari pesan yang ingin disampaikan pendukung. Salah satu unggahan di media sosial bahkan menyarankan agar suporter membawa tumpukan uang mainan sebagai bentuk protes.
Dari sisi persiapan, sikap Liverpool adalah “business as usual” alias berjalan seperti biasa. Pembicaraan dengan pihak kepolisian maupun pembahasan soal keamanan disebut sebagai pertemuan rutin yang selalu dilakukan sebelum setiap pertandingan. Meski begitu, semua pihak tampaknya sepakat bahwa ini akan menjadi kesempatan dan pertandingan yang berbeda dari biasanya.
Secara keseluruhan, laga Liverpool vs Man City di Anfield mempertemukan dua hal sekaligus: persaingan sepak bola kelas atas dan beban cerita yang belum selesai. City datang dengan rekor sempurna yang ingin mereka pertahankan, sementara Liverpool punya alasan kuat untuk tampil habis-habisan di depan pendukung sendiri. Di tengah proses banding yang masih berjalan dan atmosfer yang diprediksi memanas, hasil pertandingan ini bisa menjadi penanda penting bagi arah musim kedua tim.
