Enam pemain Premier League tidak berlutut dalam gestur sebelum pertandingan pada akhir pekan ini, saat klub-klub kembali melakukan aksi tersebut untuk pertama kalinya musim ini dalam kampanye No Room for Racism bulan Oktober. Enam nama itu tersebar di lima klub: Tyler Adams dan Rayan dari Bournemouth, Dominic Calvert-Lewin dari Leeds, Issa Diop dari Ipswich, Marc Guehi dari Manchester City, serta Ainsley Maitland-Niles dari Everton. Keputusan mereka menjadi sorotan karena aksi berlutut selama ini dipakai sebagai simbol persatuan melawan diskriminasi.
Perdebatan tentang efektivitas gestur itu kembali menguat. Premier League menegaskan bahwa keputusan untuk berlutut berasal dari para pemain dan liga mendukung sikap apa pun yang mereka pilih. Di sisi lain, sebagian pemain menilai pesan antirasisme tetap penting, tetapi cara penyampaiannya perlu terus dievaluasi agar tidak kehilangan makna.
Enam Pemain yang Tetap Berdiri
Enam pemain yang tidak berlutut pada akhir pekan ini berasal dari lima klub berbeda. Mereka adalah Tyler Adams dan Rayan dari Bournemouth, Dominic Calvert-Lewin dari Leeds, Issa Diop dari Ipswich, Marc Guehi dari Manchester City, serta Ainsley Maitland-Niles dari Everton. Pilihan mereka tidak serta-merta berarti menolak pesan antirasisme, karena liga menegaskan bahwa sikap dalam gestur ini diserahkan kepada masing-masing pemain.
- Tyler Adams dan Rayan (Bournemouth)
- Dominic Calvert-Lewin (Leeds)
- Issa Diop (Ipswich)
- Marc Guehi (Manchester City)
- Ainsley Maitland-Niles (Everton)
Lima pemain selain Guehi belum memberikan komentar publik mengenai alasannya. Leeds menjadi salah satu klub yang menjelaskan sikap pemainnya melalui manajer Daniel Farke. Menurut Farke, Calvert-Lewin memilih tetap berdiri sebagai cara menunjukkan rasa hormat, dan setiap individu memiliki cara berbeda untuk mendukung kampanye.
Awal Mula Aksi Berlutut di Premier League
Aksi berlutut mulai dilakukan pemain Premier League pada 2020 setelah kematian George Floyd dan gelombang protes Black Lives Matter. Sejak itu, gestur tersebut menjadi bagian dari upaya liga menyuarakan pesan antirasisme. Namun, pelaksanaannya tidak selalu sama setiap musim.
Sebelum musim 2022-23, para kapten klub menyepakati bahwa aksi berlutut hanya dilakukan pada laga-laga tertentu. Pada musim ini, kesepakatan itu kembali dipakai pada pertandingan kampanye No Room for Racism bulan Oktober, yang bertepatan dengan Black History Month di Inggris. Karena itu, aksi sebelum kick-off kembali terlihat di sejumlah pertandingan.
Wilfried Zaha menjadi pemain Premier League pertama yang berhenti berlutut pada 2021. Mantan penyerang Crystal Palace itu menilai gestur tersebut sudah menjadi rutinitas sebelum pertandingan dan tidak otomatis menghentikan perundungan yang masih diterima sebagian pemain. Pandangannya memberi konteks bahwa perdebatan soal efektivitas aksi berlutut sudah muncul sejak beberapa tahun lalu.
Alasan di Balik Sikap Tidak Berlutut
Guehi menjelaskan bahwa ia sudah lama tidak berlutut dalam gestur sebelum pertandingan. Ia tetap bertepuk tangan karena memahami makna yang ingin disampaikan aksi tersebut. Menurutnya, persoalan rasisme bukan semata isu sepak bola, melainkan masalah masyarakat yang lebih luas, dan sepak bola menjadi salah satu saluran harapan untuk menyebarkan pesan.
Guehi menilai pesan antirasisme masih ada dan itu hal baik, tetapi ia melihat ruang untuk melakukan lebih banyak hal. Ia mengusulkan agar kampanye dievaluasi dan dikembangkan, termasuk mencari cara agar pesannya bergerak lebih jauh. Pernyataan itu muncul sebelum laga Liga Champions Manchester City pada Selasa, saat ia ditanya apakah aksi berlutut sudah kehilangan dampak.
Farke memberikan penjelasan berbeda untuk Calvert-Lewin. Ia mengatakan pemainnya memilih menunjukkan rasa hormat dengan berdiri, bukan dengan berlutut. Farke menegaskan bahwa setiap orang berbeda dalam mengekspresikan dukungan, dan ia menilai kampanye No Room for Racism tetap penting karena ruang ganti klub adalah contoh nyata bagaimana orang dari berbagai latar bisa hidup bersama.
Dampak dan Tantangan Kampanye Antirasisme
Kick It Out menilai aksi berlutut masih berguna untuk meningkatkan kesadaran tentang ketimpangan struktural di sepak bola dan masyarakat. Organisasi itu juga memahami mengapa sebagian pemain bisa frustrasi dengan lambatnya perubahan. Namun, data menunjukkan pekerjaan rumah masih besar: laporan diskriminasi dan rasisme yang diterima lembaga tersebut lebih dari dua kali lipat antara 2021-22 dan 2025-26, dan mencapai rekor pada musim lalu.
Kasus-kasus besar memperlihatkan bahwa perundungan terhadap pemain belum berhenti. Setelah bek Inggris Jess Carter menerima serangan rasial online pada Euro Wanita musim panas lalu, tim Lionesses berhenti berlutut. Manajer Inggris Sarina Wiegman saat itu menilai aksi berlutut tidak cukup dan dampaknya tidak sebesar yang dibayangkan. Pada Februari, Hannibal Mejbri (Burnley), Wesley Fofana (Chelsea), Tolu Arokodare (Wolves), dan Romaine Mundle (Sunderland) juga menjadi sasaran rasisme di media sosial dalam satu akhir pekan.
BBC Sport bahkan menemukan 22.389 pesan yang berpotensi melecehkan di Facebook, Instagram, TikTok, dan X pada akhir pekan lain. Meski begitu, jajak pendapat YouGov 2025 menemukan mayoritas penggemar sepak bola dari kelompok etnis minoritas di Inggris masih menganggap aksi berlutut penting untuk memerangi rasisme. Sebaliknya, sebagian besar penggemar sepak bola secara keseluruhan di Inggris tidak menganggapnya demikian.
Kampanye yang Lebih Luas dari Aksi Berlutut
No Room for Racism tidak berhenti pada gestur sebelum kick-off. CEO Premier League Richard Masters mengatakan liga memakai jangkauan pemain untuk mengirim pesan bahwa sepak bola bersatu melawan rasisme. Pesan itu disertai upaya lain, termasuk pengembangan materi edukasi tentang keberagaman.
Materi tersebut tersedia bagi lebih dari 19.000 sekolah dasar di Inggris dan Wales. Kapten Liverpool Virgil van Dijk menekankan pentingnya anak-anak melihat panutan yang mirip dengan mereka dan memahami bahwa siapa pun bisa meraih cita-cita. Menurutnya, mewakili komunitas di dalam dan di luar lapangan memiliki arti besar.
Pada akhirnya, enam pemain Premier League tidak berlutut menunjukkan bahwa simbol antirasisme tidak lagi ditafsirkan dengan cara yang sama oleh semua pemain. Premier League tetap mendukung pilihan individu, sementara organisasi seperti Kick It Out menekankan bahwa aksi berlutut masih relevan untuk menjaga kesadaran. Namun, data dan kasus perundungan yang terus muncul membuat pertanyaan tentang efektivitas kampanye tetap relevan.
Bagi pembaca, perdebatan ini bukan sekadar soal berdiri atau berlutut. Inti persoalannya adalah bagaimana sepak bola menjaga pesan antirasisme tetap hidup, terukur, dan berdampak nyata. Ketika sebagian pemain memilih cara lain untuk menunjukkan sikap, diskusi tentang bentuk dukungan yang paling efektif justru menjadi bagian penting dari perjalanan kampanye itu sendiri.
