Kenapa Caf Batalkan Rencana Afcon Empat Tahunan?

Konfederasi Sepak Bola Afrika (Caf) resmi membatalkan rencananya menggelar Piala Afrika atau Afcon setiap empat tahun, dan memilih kembali ke format Afcon dua tahunan seperti sediakala. Keputusan itu diambil sekitar 10 bulan setelah badan pengatur sepak bola benua tersebut mengumumkan perubahan jadwal secara mengejutkan. Presiden Caf Patrice Motsepe menyebut pembatalan ini sebagai langkah untuk “memajukan, melindungi, dan mempromosikan” kepentingan sepak bola Afrika.

Isyarat bahwa frekuensi Afcon kembali dibahas pertama kali muncul pada konferensi strategi Caf di Tanjung Verde awal bulan ini. Sebelum itu, rencana empat tahunan sudah memicu pertanyaan soal bagaimana keputusan itu diambil hingga apa artinya bagi masa depan sepak bola Afrika. Bagi banyak asosiasi nasional, Afcon bukan sekadar turnamen bergengsi, melainkan sumber pemasukan utama yang menopang jalannya organisasi mereka.

Caf Kembali ke Siklus Dua Tahunan

Afcon sudah digelar setiap dua tahun sejak edisi pertama pada 1957, kecuali dua jeda tiga tahun pada dekade 1960-an dan satu tahun antara turnamen 2012 dan 2013. Motsepe mengumumkan perubahan besar itu pada malam menjelang putaran final 2025 di Maroko, dengan salah satu alasannya agar kalender global “jauh lebih tersinkronisasi dan harmonis”. Dalam beberapa tahun terakhir Afcon memang kerap digelar di tengah musim klub Eropa, sehingga memicu perselisihan berulang soal pelepasan pemain Afrika.

Setelah menuai reaksi, Caf meminta 54 asosiasi anggotanya menyatakan preferensi: melanjutkan format empat tahunan atau mempertahankan jadwal lama. Komite eksekutif akhirnya memilih mengembalikan status quo. Motsepe menegaskan keputusan tersebut diambil demi “kepentingan terbaik sepak bola Afrika” serta akan berkontribusi pada perkembangan dan pertumbuhan olahraga itu.

Mengapa Rencana Empat Tahunan Dianggap Kontroversial

Kritik datang dari kalangan internal sendiri. Sydney Mungala, pejabat Asosiasi Sepak Bola Zambia (Faz), menilai sentimen umum di benua itu adalah siklus dua tahunan sudah bekerja sangat baik bagi Afrika. Menurutnya, gagasan mendorong Afcon ke siklus empat tahunan mengejutkan, bahkan mengkhawatirkan, bagi sebagian besar federasi Afrika.

Proses pengambilan keputusannya pun dipersoalkan. Keputusan beralih ke siklus empat tahunan diambil dalam rapat komite eksekutif Caf pada Desember lalu, tanpa diajukan lebih dulu ke kongres umum tempat seluruh negara anggota terwakili. Jurnalis Aljazair Maher Mezahi menilai keputusan sebesar itu seharusnya dibawa ke kongres umum dan dibahas berbulan-bulan. Ia juga menyoroti bahwa Afcon adalah “lokomotif” yang membiayai seluruh kompetisi Caf lainnya.

Sorotan lain tertuju pada kehadiran Sekretaris Jenderal Fifa Mattias Grafstrom di samping Motsepe saat pengumuman dilakukan. Para pengkritik menilai perubahan jadwal itu lebih menguntungkan badan sepak bola dunia ketimbang kepentingan sepak bola Afrika. Karena itu, pembatalannya dibaca sebagai koreksi atas arah kebijakan yang dinilai terlalu berpihak ke luar benua.

Janji Africa Nations League dan Bayangan Kegagalan Sebelumnya

Sebagai gantinya, Caf mengusulkan Africa Nations League yang digelar setiap tahun dan melibatkan seluruh 54 negara di benua itu. Motsepe menyebut ambisi di baliknya adalah menciptakan “kompetisi kelas dunia setiap tahun”. Gagasannya adalah keluar dari ketergantungan berat pada Afcon dan membangun model komersial yang lebih berkelanjutan untuk membiayai pembinaan sepak bola.

Namun rekam jejak proyek serupa di Afrika tidak menggembirakan. Africa Super League yang diumumkan Caf pada 2022 dengan proyeksi pendapatan tahunan 200 juta dolar AS (sekitar 149 juta poundsterling) dihentikan setelah hanya satu edisi. Motsepe kemudian mengakui kesepakatan komersialnya tak sesuai harapan. “Kami tidak bergerak secepat itu karena mitra yang memberi kami uang tidak memberikan kesepakatan yang kami kira akan memuaskan kami,” ujarnya.

Motsepe juga mengakui keraguan terhadap Nations League. Ia khawatir kompetisi baru itu butuh “beberapa tahun” sebelum bisa memberi “kontribusi finansial dan pembinaan sepak bola yang substansial” agar sepak bola benua mampu “mandiri”. Keraguan inilah yang tampaknya membuat Caf enggan melepas Afcon sebagai penopang utama pemasukan.

Posisi Fifa dan Infantino di Balik Putar Balik

Presiden Fifa Gianni Infantino pertama kali mengusulkan secara terbuka agar Afcon digelar empat tahunan pada Februari 2020. Ide itu ditolak Motsepe tak lama setelah ia terpilih sebagai presiden Caf 13 bulan kemudian. Meski begitu, keduanya tetap menjalin hubungan dekat, dan dorongan Infantino memperluas Piala Dunia menjadi 48 tim — yang menambah keterwakilan Afrika — membuatnya memperoleh dukungan di banyak negara benua itu.

Posisi Infantino sendiri terus menghadapi tekanan sejak rencana menjual saham pada kompetisi Fifa bocor pada Juli. Sejak itu ia sibuk memperkuat basis kekuasaannya menjelang pencalonan kembali, termasuk di pertemuan strategi Caf bulan ini. Mezahi menilai kehadiran Infantino di Tanjung Verde adalah untuk menggalang dukungan, dan Afrika memberikannya dengan syarat timbal balik.

“Saya pikir konsesi utamanya adalah kembalinya Piala Afrika ke siklus dua tahunan,” kata Mezahi. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa Afrika bersedia menegaskan pengaruhnya dan menjaga kepentingannya sendiri, bahkan ketika berhadapan dengan kepentingan sepak bola global. Dengan kata lain, putar balik ini bukan sekadar soal kalender, melainkan soal daya tawar politik.

Seberapa Penting Pendapatan Afcon bagi Caf dan Asosiasi Anggota

Afcon adalah sumber pemasukan terbesar Caf dan menopang sebagian besar anggaran badan pengatur itu. Turnamen di Maroko 2025 diproyeksikan menghasilkan 192 juta dolar AS (sekitar 143 juta poundsterling), atau 66% dari total pendapatan Caf dari kompetisi putra, putri, dan kelompok umur. Laba Afcon 2025 diperkirakan mencapai 114 juta dolar AS (85 juta poundsterling), naik dari 75 juta dolar AS (56 juta poundsterling) pada edisi sebelumnya di Pantai Gading.

Bagi banyak asosiasi anggota, ketergantungan itu terasa nyata dalam operasional sehari-hari. Mungala menjelaskan Zambia memiliki 11 tim nasional dan hanya dua yang sebagian dibiayai pemerintah. Sisanya harus ditopang dari kas asosiasi, dan sebagian program dibiayai dari dukungan yang diterima dari Caf serta Fifa. Karena itu, memangkas frekuensi Afcon sama dengan memangkas sumber dana yang selama ini menghidupi pembinaan di banyak negara.

Bagaimana Jadwal Afcon Selanjutnya?

Afcon 2027 dijadwalkan berlangsung di Kenya, Tanzania, dan Uganda pada 19 Juni hingga 17 Juli 2027. Saat berkunjung ke Afrika Timur pada September, Motsepe meminta adanya “rasa urgensi yang lebih tinggi” agar stadion dan infrastruktur pendukung siap tepat waktu. Edisi berikutnya akan digelar hanya setahun kemudian, pada 2028, sesuai keputusan yang dibuat saat Caf merencanakan peralihan ke siklus empat tahunan dan tetap dipertahankan hingga kini.

Pengumuman resmi soal tuan rumah dan tanggal pasti putaran final 2028 belum dibuat. Turnamen setelahnya akan berlangsung pada 2031 dan 2033 agar tidak bertabrakan dengan Piala Dunia. Sementara itu, kick-off yang diusulkan untuk Africa Nations League adalah September 2029, dan pernyataan terbaru Motsepe mengisyaratkan kompetisi itu juga digelar dua tahunan, bukan setiap tahun seperti yang ia umumkan pada Desember lalu.

Isyarat tersebut memunculkan pertanyaan baru: bagaimana ruang di kalender bisa ditemukan untuk memainkan Nations League pada tahun-tahun Afcon mulai 2031 mendatang. Persoalan jadwal yang padat ini masih menjadi perdebatan terbuka. Artinya, meski format Afcon sudah kembali seperti semula, pekerjaan rumah soal kalender kompetisi belum selesai.

Penutup

Putar balik Caf menegaskan satu hal: Afcon dua tahunan masih terlalu penting untuk digeser, baik dari sisi tradisi maupun dari sisi finansial. Siklus dua tahunan memberi Caf dan asosiasi anggotanya aliran pemasukan yang dapat diprediksi, sementara proyek penggantinya masih harus membuktikan diri setelah kegagalan Africa Super League. Tekanan dari federasi anggota dan keinginan Afrika untuk mempertahankan daya tawarnya di hadapan Fifa melengkapi alasan di balik keputusan itu.

Yang tersisa sekarang adalah tantangan yang lebih rumit, yaitu menemukan model pembiayaan yang benar-benar menguntungkan sepak bola Afrika tanpa harus terus berbenturan dengan kepentingan kalender global. Selama persoalan itu belum terjawab, setiap wacana untuk mengubah jadwal Afcon kemungkinan besar akan menghadapi perlawanan yang sama kuatnya.