Musim pemecatan manajer Premier League sebentar lagi datang, dan nama Michael Carrick kini berada di urutan teratas daftar pelatih yang paling berisiko kehilangan pekerjaan. Kekalahan telak Manchester United di ajang Liga Champions membuat posisi pria yang baru menangani Setan Merah itu goyah. Tekanan yang menimpanya bukan lagi sekadar kritik di media sosial, melainkan sinyal bahwa kursi kepelatihan di Old Trafford mulai memanas jauh sebelum pergantian tahun.
Carrick tentu tidak sendirian. Sejarah kompetisi kasta tertinggi Inggris menunjukkan bahwa periode Oktober hingga Desember adalah masa paling rawan bagi para pelatih, ketika dewan klub mulai kehilangan kesabaran dan mencari sosok pengganti. Musim ini, ke-20 pelatih masih bertahan di posnya masing-masing, tetapi catatan beberapa tahun terakhir memperlihatkan bahwa kondisi tenang seperti ini jarang bertahan lama. Pertanyaannya bukan lagi apakah akan ada korban, melainkan siapa yang lebih dulu tersingkir.
Tekanan di Old Trafford: Carrick di Titik Rawan
Pemicu utama badai yang menerpa Carrick adalah kekalahan 4-1 dari Como di Stadio Giuseppe Sinigaglia pada laga Liga Champions tengah pekan. Hasil itu bukan hanya merusak peluang Manchester United di kompetisi Eropa, tetapi juga membuka borok yang selama ini tersembunyi di ruang ganti. Carrick terlihat berdiri sendiri saat memberi tepuk tangan kepada pendukung tim tamu setelah peluit akhir, sebuah pemandangan yang dibaca banyak pihak sebagai tanda keterasingan seorang pelatih dari skuadnya.
Kritik datang dari dalam tim sendiri. Lisandro Martinez lebih dulu menyoroti kebijakan manajemen klub, lalu kapten Bruno Fernandes seolah mempersoalkan pendekatan taktik yang dipakai Carrick di Como. Situasi semacam ini berbahaya karena ketika pemain mulai mempertanyakan cara kerja pelatih, otoritas di ruang ganti cepat menguap dan hasil buruk berikutnya akan terasa jauh lebih berat.
Retaknya Hubungan Pelatih dan Skuad
Pengamat Match of the Day, Nedum Onuoha, menangkap perbedaan pandangan yang tajam antara sang pelatih dan para pemainnya. Menurutnya, Bruno Fernandes menilai taktik yang dijalankan keliru dalam pertandingan tersebut, sementara Carrick merasa para pemain tidak berlari cukup untuk membuat rencana itu berjalan. “Ketika Anda menemukan perpecahan seperti itu, sangat sulit bagi ruang ganti untuk mempertahankan energi di belakang manajer,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Carrick, dengan mendatangi para pendukung sendirian, sesungguhnya sadar betapa buruk penampilan timnya di laga itu.
Kombinasi antara kekalahan besar, kritik terbuka dari pemain senior, dan isolasi di hadapan suporter membuat posisi Carrick jauh lebih rapuh dibandingkan pelatih lain yang juga memulai musim dengan hasil kurang memuaskan. Jika tren ini berlanjut hingga jeda internasional bulan November, tekanan dari manajemen akan sulit dibendung.
Kapan Biasanya Pelatih Premier League Diberhentikan?
Data kompetisi memberi gambaran yang tidak nyaman bagi pelatih yang sedang kesulitan. Bulan November dan Desember adalah periode paling populer untuk pergantian pelatih di tengah musim, dengan hampir sepertiga dari seluruh pemecatan terjadi hanya dalam dua bulan tersebut. Pola ini konsisten selama 34 musim kompetisi bergulir, ketika dewan klub cenderung mengambil keputusan di sekitar jeda internasional musim gugur.
Ada alasan logis di balik waktu tersebut. Klub ingin memberi pelatih baru kesempatan bekerja sebelum bursa transfer musim dingin, yang mulai diberlakukan di Inggris pada 2003, sehingga perekrutan pemain bisa disesuaikan dengan kebutuhan sang pelatih anyar. Menjelang Natal juga menjadi momen yang dianggap tepat untuk melakukan perombakan tanpa terlalu mengganggu ritme kompetisi. Karena itu, November dan Desember sering disebut sebagai musim pemecatan manajer Premier League dalam arti yang sebenarnya.
Sejarah mencatat sejumlah keputusan yang terasa kejam. Les Reed dari Charlton Athletic diberhentikan pada malam Natal 2006 setelah hanya memenangi satu dari tujuh laga liga dan mengumpulkan empat poin. Masa jabatannya selama 40 hari bertahan sebagai yang terpendek di Premier League selama hampir dua dekade, sampai Sam Allardyce memecahkan rekor itu pada 2022-23 dengan 30 hari di Leeds United yang berakhir dengan degradasi. Ange Postecoglou menyusul dengan hanya 39 hari di Nottingham Forest pada musim lalu.
Di Matteo hingga Mourinho: Preseden di Bulan November-Desember
Nama-nama besar pernah merasakan dinginnya bulan November. Roberto Di Matteo diberhentikan Chelsea pada 2012 meski enam bulan sebelumnya mengantar klub itu juara FA Cup dan Liga Champions sebagai pelatih caretaker. Ia harus membayar mahal atas awal buruk dalam upaya mempertahankan gelar Eropa, sebuah contoh bahwa jasa besar tidak selalu menjadi jaminan.
Tottenham juga memecat Mauricio Pochettino pada November 2019, sementara Manchester United mendepak legenda mereka sendiri, Ole Gunnar Solskjaer, pada November 2021. Bulan Desember pun tak kalah ganas dan bahkan mencatat Jose Mourinho dua kali: pada 2015 ia meninggalkan Chelsea, yang saat itu berstatus juara bertahan, lewat kesepakatan bersama, dan pada 2018 ia diberhentikan Manchester United.
Pola ini menunjukkan bahwa klub besar sekalipun tidak ragu mengambil langkah drastis ketika hasil di lapangan tidak sesuai harapan. Bagi pelatih yang baru bergabung, catatan tersebut menjadi peringatan bahwa masa tenggang di Premier League sangat singkat dan toleransi terhadap proses pembangunan tim terus menyusut.
Kesabaran Klub yang Semakin Menipis
Musim lalu, rata-rata masa jabatan pelatih yang meninggalkan klubnya hanya 310 hari, menjadikannya yang terendah kedua sepanjang sejarah Premier League. Rekor terendah masih dipegang musim 1994-95 dengan rata-rata 154 hari. Sepanjang 2025-26, tercatat 11 pelatih berpisah dengan klubnya, dan hanya pengunduran diri Enzo Maresca di Chelsea yang benar-benar terjadi atas kehendak sendiri.
Kesabaran pemilik klub sebenarnya naik-turun dari dekade ke dekade. Ada periode ketika pemecatan hampir tidak terjadi, seperti pada 1995-96, dan ada masa panjangnya masa jabatan pelatih pada 2021-22 yang sebagian besar dipengaruhi pandemi. Namun sejak itu, durasi kepemimpinan pelatih terus menurun dengan tajam. Igor Tudor hanya bertahan 44 hari di Tottenham dengan raihan satu poin dari lima laga liga, tak lama setelah masa singkat Postecoglou di Forest.
Tekanan struktural ikut memperparah keadaan. Musim ini diawali dengan rekor sembilan klub yang memulai kompetisi bersama pelatih permanen baru, dan lima di antaranya kini berada di paruh bawah klasemen. Konsekuensi finansial degradasi yang sangat besar, ditambah derasnya suara di media sosial, membuat klub semakin enggan memberi waktu. Keputusan besar diambil cepat, sering kali tanpa mempertimbangkan proses yang sedang dibangun.
Siapa Saja yang Perlu Waspada?
Selain Carrick, sejumlah nama disebut berada dalam pengawasan menjelang jeda internasional November. Pelatih anyar Nottingham Forest, Oliver Glasner, dan Regis le Bris dari Sunderland disebut mulai merasa tidak nyaman, terlebih Sunderland harus menjalani padatnya jadwal Liga Europa. Di sisi lain, Roberto de Zerbi berhasil meredakan tekanan setelah dua kemenangan beruntun mengangkat Tottenham ke peringkat 12, sementara Alvaro Arbeloa di Fulham juga menyingkirkan bayang-bayang pemecatan lewat dua kemenangan 1-0 berturut-turut.
Marco Rose, pendatang baru lain di sepak bola Inggris, belum menunjukkan performa domestik yang meyakinkan bersama Bournemouth, yang akan menjamu Manchester United di Old Trafford pada Minggu. Meski demikian, kemenangan atas AC Milan di tengah pekan yang memperpanjang rekor sempurna mereka di Liga Europa tampaknya cukup untuk menahan tekanan untuk sementara waktu. Situasi berbeda dialami Pierre Sage di Crystal Palace, yang meminta maaf kepada pendukung setelah dihancurkan Brighton 5-0 pada Minggu dan kini berjuang mempertahankan pekerjaannya hanya empat bulan setelah datang dari Lens.
Crystal Palace akan menjamu Newcastle pada Minggu, dan pelatih baru Newcastle, Matthias Jaissle, juga membutuhkan hasil positif dengan segera. Memang terasa terlalu dini untuk membicarakan pemecatan ketika kompetisi baru berjalan beberapa pekan, tetapi sejarah Premier League berulang kali membuktikan sebaliknya. Begitu rangkaian hasil buruk dimulai, jarak menuju pintu keluar bisa sangat pendek.
Dari paparan di atas, jelas bahwa musim pemecatan manajer Premier League bukan sekadar istilah musiman, melainkan pola nyata yang berulang setiap tahun. November dan Desember menjadi bulan paling berbahaya, sementara rata-rata masa jabatan pelatih yang tersingkir terus menurun hingga 310 hari pada musim lalu. Di tengah tuntutan finansial dan sorotan publik yang tanpa henti, kesabaran klub semakin tipis dan pelatih dituntut memberi hasil nyata dalam hitungan pekan, bukan tahun.
Bagi Carrick, ancaman itu kini terasa sangat dekat setelah kekalahan di Como dan retaknya hubungan dengan ruang ganti. Nama-nama seperti Glasner, le Bris, Rose, hingga Sage juga berada di zona yang sama, menunggu apakah hasil pertandingan berikutnya cukup untuk menyelamatkan mereka. Satu hal yang pasti: di Premier League, tidak ada pelatih yang benar-benar aman ketika November tiba.
