Comeback James Maddison Bawa Tottenham Tekuk Coventry 3-1

Tottenham Hotspur akhirnya merasakan kemenangan pertama mereka di Premier League musim ini, dan comeback James Maddison menjadi penyebab utamanya. Gelandang berusia 29 tahun itu tampil sebagai starter untuk pertama kalinya setelah 18 bulan, lalu langsung menyumbang gol pembuka dalam kemenangan 3-1 atas Coventry City. Hasil ini sekaligus mengangkat Spurs dari dasar klasemen, posisi yang jelas tidak pernah mereka bayangkan akan mereka tempati selama ini.

Momen tersebut terasa istimewa karena Maddison baru saja melewati periode terburuk dalam kariernya. Ia absen hampir sepanjang musim lalu akibat cedera ligamen anterior cruciatum (ACL) yang ia derita di pramusim, lalu kembali harus menepi karena tulang belikatnya retak pada kekalahan di pekan pembuka melawan Brentford. Bagi Roberto de Zerbi, kembalinya Maddison seperti menjawab teka-teki yang sudah lama ia cari: sosok yang bisa mengubah wajah tim di tengah tekanan.

Comeback James Maddison Dibuka dengan Gol Spektakuler

Sejak pemanasan, Maddison sudah tampak menikmati setiap detiknya. Senyumnya sulit disembunyikan, seolah ia tahu bahwa laga melawan Coventry akan menjadi panggung pembuktian bagi dirinya. Ia terbukti benar, karena pada menit ke-14 ia memperlihatkan kualitas yang selama ini hilang dari lini tengah Tottenham.

Umpan Mohammed Kudus ia terima dengan sentuhan pertama, lalu ia melepaskan tembakan kaki kanan dari jarak sekitar 20 yard. Bola melengkung tinggi melewati kiper Coventry, Carl Rushworth, dan bersarang di gawang. Stadion sempat bergemuruh, dan tayangan ulang momen tersebut berkali-kali ditampilkan di layar besar hingga memancing decak kagum penonton.

Meski gol itu terjadi melawan mantan klubnya, Maddison tetap merayakannya dengan gaya khasnya: gerakan melempar panah imajiner, lalu mencium lambang di dada seragam Spurs. Gestur itu sederhana, tetapi cukup menjelaskan betapa besar rasa syukur dan kelegaan yang ia rasakan setelah sekian lama hanya bisa menonton dari pinggir lapangan.

18 Bulan Penuh Perjuangan Keluar dari Ruang Perawatan

Untuk memahami besarnya arti momen tersebut, perlu dilihat bagaimana perjalanan Maddison selama 18 bulan terakhir. Cedera ACL di pramusim membuatnya kehilangan hampir seluruh musim lalu, dan harapan untuk bangkit di awal musim ini langsung pupus ketika tulang belikatnya retak dalam kekalahan di markas Brentford pada pekan pembuka.

Dampaknya terhadap performa tim tercermin jelas pada catatan pertandingan. Sejak gol liga terakhir Maddison dalam kemenangan 1-0 atas Manchester United pada Februari 2025, Spurs hanya mampu memenangi 12 dari 57 pertandingan Premier League. Rata-rata poin mereka pun kurang dari satu per laga selama periode tersebut.

Angka itu bahkan lebih buruk jika dihitung dari start terakhirnya, yaitu saat melawan Liverpool pada 27 April 2025. Di antara periode itu hingga laga kontra Coventry, Tottenham hanya menang 11 kali dari 49 pertandingan liga dan menelan 23 kekalahan. Data tersebut cukup menjelaskan mengapa kehadiran Maddison di starting XI dianggap lebih dari sekadar rotasi biasa.

Kemenangan yang Tetap Menyisakan Pekerjaan Rumah

Meski terasa melegakan, kemenangan ini bukanlah performa sempurna yang bisa membuat Spurs langsung berpuas diri. Ini baru kemenangan kandang keenam mereka dari 37 laga liga terakhir di rumah sendiri, dengan catatan 10 imbang dan 21 kalah. Secara keseluruhan pada 2026, Spurs baru mengoleksi empat kemenangan liga dari 27 pertandingan, disertai 10 hasil imbang dan 13 kekalahan.

Ada satu catatan lain yang menunjukkan betapa lamanya Tottenham kesulitan mencetak banyak gol di kandang. Ini adalah kali pertama mereka mencetak tiga gol atau lebih di kandang dalam laga liga sejak hari pembukaan musim lalu, ketika mereka mengalahkan Burnley 3-0 pada laga pertama Thomas Frank sebagai pelatih.

Kemenangan atas Coventry pun tidak sepenuhnya mulus. Jack Rudoni sempat menyamakan kedudukan untuk Coventry, sebelum Omar Marmoush mencetak gol pertamanya untuk klub dengan tembakan melengkung yang tidak bisa dijangkau Rushworth. Gol Ben Davies di masa injury time akhirnya memastikan kemenangan, dan itu terjadi setelah kesalahan fatal dari kiper lawan. Skor 3-1 memang terlihat nyaman, tetapi suasana di Tottenham Hotspur Stadium sepanjang laga masih dipenuhi kegelisahan yang sulit disembunyikan.

Kulusevski Kembali, Marmoush Pecah Telur

Selain comeback James Maddison, ada cerita lain yang membuat sore itu terasa lebih ringan bagi De Zerbi. Dejan Kulusevski akhirnya kembali merumput sebagai pengganti Kudus pada menit ke-87, setelah 526 hari absen karena cedera lutut. Sambutan untuknya bahkan bisa dibilang lebih meriah dibandingkan tepuk tangan berdiri yang diterima Maddison saat ditarik keluar pada menit ke-69 dan digantikan Conor Gallagher.

Kembalinya Maddison dan Kulusevski disebut De Zerbi memberi warna berbeda di ruang ganti. “Mereka adalah pemain yang berbeda, talenta yang berbeda, kepribadian yang berbeda. Dengan mereka di ruang ganti, suasananya jadi berbeda,” ujarnya. Namun ia juga menyadari bahwa yang paling mengubah suasana adalah kemenangan, dan itulah yang akhirnya ia dapatkan.

Maddison sendiri menuturkan bahwa ia sudah berbicara dengan pelatihnya pada akhir pekan mengenai kesiapan untuk kembali ke starting XI. “Saya hanya ingin bermain dengan baik dan menunjukkan kemampuan saya, menunjukkan apa yang sudah tim ini lewatkan selama 18 bulan,” katanya kepada Sky Sports. Ia menambahkan bahwa sang pelatih memintanya tampil dan menikmati pertandingan dari sisi lapangan, dan menurutnya gol selalu menjadi pelengkap yang menyenangkan.

Ujian Sesungguhnya Menanti di Stamford Bridge

De Zerbi tahu betul bahwa ini baru titik awal, bukan akhir dari perjalanan. Jadwal berikutnya langsung menghadirkan tantangan berat: bertandang ke Stamford Bridge menghadapi Chelsea pada Sabtu malam pukul 17.30 waktu setempat. Laga itu akan menjadi ukuran apakah tiga poin atas Coventry benar-benar bisa menjadi pemicu kebangkitan, atau hanya jeda sesaat di tengah musim yang tetap sulit.

Yang membuat situasi ini lebih menarik adalah kini De Zerbi punya lebih banyak pilihan. Ia sebelumnya mencoba berbagai cara untuk menemukan percikan yang hilang, mulai dari berperan sebagai psikolog amatir, menggelar makan malam perekat tim, hingga membawa skuad berlibur singkat ke Marbella. Jawabannya ternyata bukan berasal dari luar lapangan, melainkan dari pemain yang selama ini hanya bisa menyaksikan rekan-rekannya berjuang.

Comeback James Maddison memberi Tottenham sesuatu yang sudah lama tidak mereka miliki: kreativitas, keberanian mengambil risiko, dan suasana positif di dalam tim. Golnya pada menit ke-14 menjadi simbol dari semua hal itu, sementara kembalinya Kulusevski menambah alasan untuk optimistis. Namun catatan statistik yang disebutkan di atas tetap menjadi pengingat bahwa satu kemenangan belum menyelesaikan apa pun.

Bagi De Zerbi, tiga poin ini akhirnya memberi pijakan nyata untuk membangun sesuatu. Tantangan sesungguhnya ada di Stamford Bridge, tempat Spurs harus membuktikan bahwa kembalinya Maddison dan Kulusevski bukan sekadar cerita haru sesaat, melainkan awal dari perbaikan yang sungguh-sungguh.