Khadija Shaw Absen, Daftar FifPro World XI Tuai Kritik

Daftar nominasi FifPro World XI untuk kategori putri resmi dirilis dan langsung memancing perdebatan. Dari 26 nama yang masuk, sejumlah pemain bintang justru tidak tercantum, termasuk penyerang Manchester City sekaligus pencetak gol terbanyak timnya, Khadija Shaw, yang baru saja finis ketiga dalam pemungutan suara Ballon d’Or.

Absennya Shaw bukan satu-satunya kejutan. Nama Temwa Chawinga asal Malawi, Melchie Dumornay dari Haiti, winger Barcelona Caroline Graham Hansen, dan kapten Denmark Pernille Harder juga tidak masuk daftar. Sebaliknya, tiga pemain Inggris, Ella Toone, Chloe Kelly, dan Aggie Beever-Jones, masuk meski penampilan mereka belakangan ini tidak istimewa. Karena FifPro World XI adalah satu-satunya penghargaan yang sepenuhnya ditentukan oleh sesama pesepak bola, komposisi daftar ini pun dianggap cermin penilaian para pemain terhadap rekan-rekannya sendiri.

Nama Besar yang Tidak Masuk Daftar FifPro World XI

Kritik paling keras muncul karena lima dari sepuluh pemain yang finis teratas di Ballon d’Or tidak masuk daftar nominasi. Padahal, posisi di Ballon d’Or biasanya menjadi indikator kuat performa seorang pemain dalam satu periode penilaian. Shaw adalah contoh paling mencolok: ia finis ketiga di Ballon d’Or sekaligus menjadi ujung tombak utama Manchester City saat klub itu meraih gelar ganda liga dan Piala FA, dengan catatan 21 gol dalam 22 pertandingan liga.

Selain Shaw, Chawinga dan Dumornay yang tampil menonjol bersama klub masing-masing juga tidak tercantum. Graham Hansen, yang dikenal sebagai salah satu pemain sayap paling konsisten di Eropa, kembali harus menerima kenyataan serupa seperti pada edisi-edisi sebelumnya. Sementara itu, Harder yang selama bertahun-tahun menjadi tokoh sentral lini depan Denmark juga absen dari daftar 26 nama tersebut.

Di sisi lain, masuknya Toone, Kelly, dan Beever-Jones dianggap lebih mengejutkan karena ketiganya sempat gagal masuk skuad terbaru tim nasional Inggris. Beever-Jones hanya mencetak tujuh gol di semua kompetisi untuk klub dan negaranya selama periode pemungutan suara, sedangkan Toone dan Kelly berjuang dengan performa serta kebugaran pada rentang waktu yang sama. Nama Lauren Hemp dari Manchester City dan Lauren James dari Chelsea, yang tampil impresif bersama klubnya, justru tidak masuk daftar.

Bagaimana Sistem Voting FifPro World XI Bekerja

Daftar nominasi ini lahir dari pemungutan suara 6.511 pesepak bola putri yang berasal dari 64 negara melalui sistem daring yang disediakan FifPro. Penilaian dilakukan terhadap performa pemain pada periode 4 Agustus 2025 hingga 16 Agustus 2026. Setiap pemain hanya bisa dicalonkan jika tampil minimal 20 kali dalam rentang waktu tersebut, sehingga aspek konsistensi dan jumlah penampilan ikut menentukan.

Nantinya, tim World XI final akan terdiri dari satu kiper, tiga bek, tiga gelandang, dan tiga penyerang yang memperoleh suara terbanyak di posisinya masing-masing. Satu tempat tersisa diberikan kepada pemain lapangan dari posisi mana pun yang mengumpulkan suara terbanyak berikutnya. Jika seorang pemain dinominasikan dalam lebih dari satu posisi, misalnya sebagai gelandang sekaligus penyerang, suara yang masuk di kedua posisi itu digabung.

Pemenang akan diumumkan pada Senin, 9 November pukul 13.00 GMT. Karena prosesnya sepenuhnya berada di tangan pemain, hasil akhirnya sering dianggap lebih mencerminkan respek dari ruang ganti daripada sekadar rekam jejak trofi atau sorotan media.

Kontroversi yang Berulang Setiap Tahun

Daftar yang menuai kritik sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah penghargaan ini. Tahun lalu, gelandang Arsenal dan Spanyol Mariona Caldentey tidak masuk FifPro World XI meski menjadi runner-up Ballon d’Or. Kasus itu menunjukkan bahwa mekanisme voting di kalangan pemain bisa menghasilkan penilaian yang sangat berbeda dari juri media yang menentukan Ballon d’Or.

Pada 2024, ketika sekitar 7.000 pesepak bola putri memberikan suara, empat dari lima pemain teratas Ballon d’Or juga tidak masuk daftar pendek, termasuk Graham Hansen yang memang kerap terlewat dalam berbagai daftar penghargaan. Saat itu, lima pemain tim nasional Inggris justru masuk meski tidak memenangi trofi besar pada tahun tersebut dan tidak ada satu pun pemain Inggris di sepuluh besar Ballon d’Or. Pola serupa kembali terlihat pada edisi kali ini.

Ada pula nama yang tetap masuk meski performanya menurun. Striker Lyon, Ada Hegerberg, kembali masuk daftar meski tidak mencetak gol di fase gugur Liga Champions Putri dan tidak selalu menjadi pilihan utama di Lyon pada periode awal pemungutan suara. Bagi sebagian pengamat, inkonsistensi semacam ini memperlihatkan bahwa popularitas, reputasi jangka panjang, dan keterkenalan di kalangan rekan seprofesi masih berpengaruh besar terhadap hasil voting.

Dampak bagi Pemain dan Industri Sepak Bola Putri

Bagi pemain seperti Shaw, absennya dari daftar ini bisa terasa tidak adil karena bertabrakan dengan capaian yang sudah terbukti di lapangan. Penghargaan yang dipilih sesama pesepak bola seharusnya menjadi validasi paling murni, tetapi justru di sinilah muncul kesenjangan antara data performa dan persepsi kolektif. Situasi ini berpotensi memengaruhi nilai tawar pemain dalam negosiasi kontrak, daya tarik komersial, hingga posisi mereka dalam perbincangan soal pemain terbaik dunia.

Bagi kompetisi, daftar seperti ini menjadi bahan diskusi soal seberapa besar bobot liga domestik tertentu dibanding kompetisi lain. Sebagian besar nama yang masuk berasal dari klub-klub besar Eropa, sehingga pemain dari liga yang kurang terekspos menghadapi tantangan lebih berat untuk mendapat perhatian. Di sisi lain, kehadiran nama-nama seperti Barbra Banda dari Orlando Pride dan Ghizlane Chebbak menunjukkan bahwa suara pemain juga bisa membuka ruang bagi talenta dari wilayah yang jarang disorot media arus utama.

Untuk pembaca dan penggemar, perdebatan ini menjadi pengingat bahwa tidak ada satu penghargaan pun yang benar-benar objektif. Setiap metode pemilihan memiliki biasnya sendiri, baik bias media, bias trofi, maupun bias popularitas di ruang ganti. Yang menarik justru bagaimana perbedaan itu terus diuji dari tahun ke tahun.

Konteks Lebih Luas: Pemain Menilai Pemain

FifPro World XI menempati posisi unik karena berada di antara penghargaan berbasis statistik dan penghargaan berbasis opini publik. Ketika ribuan pesepak bola memberi suara, hasilnya bukan hanya soal siapa yang mencetak gol terbanyak, tetapi juga siapa yang paling diingat dan dihormati oleh lawan-lawannya. Itu sebabnya daftar ini bisa memuat nama yang jarang muncul di daftar pendek Ballon d’Or, sekaligus melewatkan pemain yang sedang berada di puncak performa.

Periode penilaian yang membentang lebih dari satu tahun juga membuat daftar ini sulit dibandingkan langsung dengan penghargaan berbasis musim. Pemain yang tampil konsisten sepanjang periode punya peluang lebih besar, tetapi pemain yang bersinar di momen-momen besar bisa tetap dianggap istimewa oleh rekan-rekannya. Kombinasi kedua faktor inilah yang membuat hasil akhirnya selalu menyisakan ruang debat.

Dengan pengumuman yang tinggal menunggu waktu, perhatian kini beralih ke siapa yang akhirnya mengisi sebelas posisi. Apa pun hasilnya, daftar 26 nama ini sudah cukup untuk memicu diskusi panjang tentang bagaimana dunia sepak bola putri menilai pemain terbaiknya sendiri.

Daftar Lengkap Nominasi FifPro Women’s World XI

Berikut susunan nama yang masuk daftar pendek berdasarkan posisi, lengkap dengan klub dan negara asal sebagaimana dirilis FifPro:

  • Kiper: Ann-Katrin Berger (Gotham, Jerman), Catalina Coll (Barcelona, Spanyol), Hannah Hampton (Chelsea, Inggris).
  • Bek: Ona Batlle (Barcelona/Arsenal, Spanyol), Lucy Bronze (Chelsea, Inggris), Ellie Carpenter (Chelsea, Australia), Emily Fox (Arsenal, Amerika Serikat), Alex Greenwood (Manchester City, Inggris), Mapi Leon (Barcelona/London City Lionesses, Spanyol), Katie McCabe (Arsenal/Chelsea, Republik Irlandia), Irene Paredes (Barcelona, Spanyol).
  • Gelandang: Aitana Bonmati (Barcelona, Spanyol), Ghizlane Chebbak (Al-Hilal/Free Agent, Maroko), Patri Guijarro (Barcelona, Spanyol), Anaele Le Moguedec (Paris FC, Prancis), Vicky Lopez (Barcelona, Spanyol), Alexia Putellas (Barcelona/London City Lionesses, Spanyol), Ella Toone (Manchester United, Inggris).
  • Penyerang: Barbra Banda (Orlando Pride, Zambia), Aggie Beever-Jones (Chelsea, Inggris), Athenea del Castillo (Real Madrid, Spanyol), Ada Hegerberg (OL Lyonnes, Norwegia), Chloe Kelly (Arsenal, Inggris), Ewa Pajor (Barcelona, Polandia), Claudia Pina (Barcelona, Spanyol), Alessia Russo (Arsenal, Inggris).

Kesimpulan

Daftar nominasi FifPro World XI kali ini menyoroti ketegangan antara performa terukur dan penilaian sesama pemain. Absennya Khadija Shaw, Temwa Chawinga, Melchie Dumornay, Caroline Graham Hansen, dan Pernille Harder menjadi sorotan utama, sementara masuknya Ella Toone, Chloe Kelly, dan Aggie Beever-Jones menambah panjang daftar kejutan. Semua ini terjadi dalam mekanisme voting yang melibatkan 6.511 pemain dari 64 negara, dengan pemenang diumumkan pada 9 November.

Pada akhirnya, kontroversi semacam ini justru menunjukkan betapa hidupnya diskusi seputar sepak bola putri. Selama penghargaan masih dipilih oleh manusia dengan beragam sudut pandang, selalu akan ada nama yang dianggap layak namun terlewat, dan nama yang dianggap mengejutkan namun tetap mendapat kepercayaan.