31 Tahun Puasa Trofi Everton: Derita atau Perayaan?

Everton sedang menikmati awal musim yang belum terkalahkan di Premier League sekaligus melaju mulus di Carabao Cup, dan itu memunculkan perasaan yang sudah lama tidak dirasakan para pendukungnya: optimisme. Sayangnya, euforia tersebut tetap dibayangi satu persoalan besar, yakni puasa trofi Everton yang kini menginjak tahun ke-31. Wajar bila optimisme itu datang dengan sangat hati-hati, sebab catatan panjang tanpa gelar sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas klub asal Merseyside tersebut.

Perubahan suasana ini terasa cukup mencolok karena beberapa waktu sebelumnya para pendukung Everton masih diliputi kemarahan. Jendela transfer klub berjalan kacau, terutama pada hari terakhir yang carut-marut hingga menyisakan manajer David Moyes hanya dengan 18 pemain senior untuk posisi outfield. Upaya mendatangkan penyerang AS Monaco, Folarin Balogun, gagal setelah sang pemain mundur karena masalah medis, sementara Iliman Ndiaye — yang bisa dibilang pemain terbaik Everton saat itu — justru dijual ke Manchester City dengan harga £65 juta. Di tengah latar itulah Moyes berusaha mengakhiri penantian 31 tahun yang memberi klub sebuah rekor yang tidak diinginkan siapa pun.

Optimisme Baru Everton di Tengah Kekacauan Jendela Transfer

Modal optimisme Everton musim ini cukup nyata. Tim asuhan Moyes belum terkalahkan di Premier League, dan perjalanan mereka di Carabao Cup juga berjalan sesuai rencana. Kombinasi dua hal itu memicu apa yang disebut sebagai wabah kecil optimisme di kalangan basis penggemar, sesuatu yang jarang muncul dalam beberapa tahun terakhir.

Namun, kebahagiaan itu tidak lepas dari luka yang baru saja terjadi. Kekacauan di jendela transfer membuat kedalaman skuad Everton menjadi sorotan, terutama karena Moyes hanya memiliki 18 pemain senior outfield untuk mengarungi kompetisi yang padat. Penjualan Ndiaye ke Manchester City menambah rasa kehilangan, mengingat perannya yang sentral dalam permainan tim. Sementara itu, kegagalan merekrut Balogun memperlihatkan betapa rapuh proses negosiasi klub pada periode tersebut.

Meski begitu, hasil di lapangan perlahan mengubah nada pembicaraan. Moyes dikabarkan menuntut lebih banyak dari para pemainnya, tetapi ia memilih untuk tidak membicarakan peluang ke kompetisi Eropa. Sikap itu menunjukkan bahwa ia lebih fokus membangun fondasi permainan ketimbang menjanjikan target besar yang bisa menambah tekanan.

Rekor 31 Tahun Puasa Trofi dan Statistik yang Menyakitkan

Sejak pergantian abad, Everton menjadi satu-satunya klub di empat kasta teratas sepak bola Inggris yang belum pernah memenangi trofi maupun merasakan promosi. Trofi terakhir mereka adalah Piala FA 1995 lewat kemenangan atas Manchester United di Wembley lama. Ironisnya, untuk merasakan sensasi promosi, Everton justru harus lebih dulu mengalami pahitnya degradasi — sesuatu yang terakhir mereka alami pada 1951.

Di sisi lain, ada satu catatan yang tetap membanggakan. Everton termasuk salah satu dari hanya enam klub pendiri Premier League yang tidak pernah keluar dari kasta teratas, bersama Arsenal, Chelsea, Liverpool, Manchester United, dan Tottenham Hotspur. Stabilitas itu menjadi bukti bahwa klub ini bukan sekadar bertahan, melainkan tetap kompetitif di level tertinggi.

Namun, ketika melihat catatan piala, ceritanya jauh dari menggembirakan. Sejak 2000, Everton kalah di dua semifinal Piala FA, memenangi semifinal ketiga pada 2009 melalui adu penalti melawan Manchester United, tetapi kemudian takluk dari Chelsea di partai final. Mereka juga delapan kali tersingkir di babak ketiga pada percobaan pertama, sementara di Piala EFL hanya dua kali mencapai semifinal, yakni pada 2008 dan 2016, dan keduanya berakhir dengan kekalahan.

Rekor tandang di liga pun sama pahitnya. Everton tidak pernah menang di markas Chelsea dalam 27 percobaan, hanya dua kali menang di Manchester United, sekali di Arsenal dan Liverpool, serta lima kali di Manchester City — meski ada pengecualian berupa kemenangan replay babak keempat Piala FA di Stamford Bridge pada 2011. Di derby Merseyside, dari 53 pertemuan di Premier League, Everton hanya menang lima kali dan kalah 28 kali.

Kronologi: Nyaris Degradasi hingga Keajaiban 2004-05

Betapa tipisnya garis antara Everton dan degradasi terlihat jelas pada beberapa musim terakhir. Pada 2022-23, mereka memastikan bertahan di hari terakhir lewat kemenangan atas Bournemouth. Sebelumnya, keselamatan mereka baru terjamin setelah bangkit dari ketertinggalan dua gol untuk mengalahkan Crystal Palace di laga kedua terakhir di Goodison Park, sebuah malam yang berubah menjadi teater olahraga penuh gemuruh.

Di sisi lain, Everton juga punya momen yang layak dikenang. Pada 2004-05, Moyes melakukan apa yang disebut mantan manajer Arsenal, Arsene Wenger, sebagai “sebuah keajaiban”: setelah menjual Wayne Rooney ke Manchester United, ia membawa Everton finis di peringkat keempat dan lolos ke Liga Champions. Musim itu juga menghadirkan salah satu malam perayaan favorit di Goodison, ketika Duncan Ferguson menyulitkan Manchester United asuhan Sir Alex Ferguson dan mencetak gol kemenangan melalui sundulan khas dari tendangan bebas Mikel Arteta.

Sayangnya, perjalanan Everton ke babak kualifikasi Liga Champions berakhir dengan kekecewaan dan kontroversi. Setelah kalah 2-1 di leg pertama kandang dari Villarreal yang nantinya melaju ke semifinal, wasit Pierluigi Collina secara misterius menganulir sundulan Ferguson di menit akhir yang seharusnya membawa laga ke perpanjangan waktu. Everton akhirnya tersingkir dengan agregat 4-2, dan keputusan itu masih membuat geram hingga hari ini.

Leon Osman: Saya Tak Akan Menukar Status Evertonian

Leon Osman, yang mencatat 433 penampilan untuk Everton antara 2003 dan 2016 dengan 58 gol, menolak menggambarkan perjalanan itu sebagai kesengsaraan tanpa akhir. Ia mengakui ada kekecewaan dan tahun-tahun tanpa trofi, tetapi menegaskan tidak akan menukar statusnya sebagai Evertonian dengan apa pun di dunia. Baginya, narasi bahwa mendukung Everton berarti hidup dalam derita adalah kesimpulan yang terlalu sederhana.

Osman menyoroti sejumlah momen baik yang tetap layak dirayakan, mulai dari capaian semifinal, final Piala FA, hingga perjalanan di kompetisi Eropa. Ia secara khusus mengenang kemenangan Everton di Nuremberg pada ajang Piala UEFA, yang disaksikan ribuan pendukung yang datang jauh-jauh untuk menikmatinya. “Saya sama sekali tidak merasa ini 26 tahun derita,” ujarnya, seraya menegaskan bahwa ia akan berdebat keras melawan anggapan tersebut.

Ia juga menilai kualifikasi Liga Champions pada 2005 sebagai pencapaian luar biasa mengingat beratnya persaingan klub-klub yang mereka hadapi. Osman mengaku lebih kecewa dibanding Evertonian mana pun karena tak ada trofi dalam 20-30 tahun terakhir, terutama pada periode ketika ia masih bisa memengaruhinya di lapangan. Namun, ia menegaskan tidak ada satu momen pun ia ingin menukar statusnya, dan ia yakin jika trofi itu akhirnya datang, perayaannya akan luar biasa.

Dr David France: Dua Juta Mil dan Rasa Kebersamaan

Kesetiaan yang luar biasa datang dari Dr David France, yang menghitung dirinya telah menempuh dua juta mil untuk menonton klub kesayangannya dari tempat tinggalnya di Amerika Serikat. Jarak itu setara dengan perjalanan ke bulan dan kembali sebanyak empat kali. Pria berusia 78 tahun yang berbasis di Arizona sejak 1977 itu pertama kali menonton Everton pada 4 September 1957, ketika klub bermain imbang 3-3 melawan Manchester United yang saat itu dikenal sebagai Busby Babes.

France bukan penggemar biasa. Ia mendirikan Everton Former Players’ Foundation pada 1999 dan menjadi arsiparis utama klub dengan lebih dari 20.000 item memorabilia, yang ia alihkan ke kepemilikan publik melalui The Everton Collection Charitable Trust dan kini tersimpan di Liverpool Record Office. Karena itu, pandangannya tentang perjalanan klub punya bobot tersendiri.

Ia mengakui Everton seperti kehilangan momentum setelah kapal Premier League berlayar, sehingga tidak lagi menjadi yang terbaik di antara sisanya. Selama sekitar sepuluh tahun di bawah Moyes, Everton rata-rata finis di peringkat keenam atau ketujuh dengan sesekali cerita kurang beruntung. Ia juga menyebut periode tiga tahun yang lebih baru sempat membuat klub nyaris dianggap bahan tertawaan, dan berharap situasinya kini sudah berubah, meski ia sadar Everton belum selevel Aston Villa atau Newcastle United yang sedang menantang posisi terbaik di luar kelompok elite.

Soal biaya kesetiaannya, France menyebut angka “jackpot Littlewoods Pools bernilai tujuh digit” — kilasan pada perusahaan yang dibentuk Sir John Moores, tokoh besar Everton pada 1960-an dan 1970-an yang kekayaannya membuat klub dijuluki ‘The Mersey Millionaires’. Perayaan terbaru yang ia ingat adalah kemenangan 2-0 atas Liverpool di Goodison pada April 2024, kemenangan pertama Everton dalam 30 derby jika tidak menghitung kemenangan 2-0 tanpa penonton di Anfield saat pandemi Covid-19. Ia duduk di baris kedua directors’ box, dan tiga baris di belakangnya ada Andy Burnham yang mengepalkan tangan ke udara Merseyside.

Baginya, mendukung Everton berarti menjadi bagian dari komunitas yang istimewa. Ia menegaskan bahwa orang tidak menjadi Evertonian untuk berburu kejayaan, karena loyalitas sudah tertanam di dalam diri mereka. France bahkan menyebut para pendukung Everton tidak hanya mendukung klub, tetapi juga saling mendukung sebagai sebuah keluarga, sehingga ia selalu merasa berada di antara teman ketika menonton pertandingan.

Konteks Lebih Luas: Harapan dan yang Mungkin Terjadi Berikutnya

Ada alasan nyata untuk tidak sepenuhnya pesimistis. Kemenangan 1-0 atas Wolverhampton Wanderers di Piala EFL di Hill Dickinson Stadium memastikan Everton melaju ke babak 16 besar dengan status tuan rumah melawan Newcastle United. Laga itu disaksikan sejumlah figur publik, termasuk Andy Burnham dan Perdana Menteri Kanada Mark Carney. Stadion baru yang megah dan tiket yang selalu habis menjadi bukti bahwa dukungan kepada klub ini tidak pernah surut.

Sorotan pemberitaan pada 19 September menyebut Moyes menuntut lebih banyak dari para pemainnya, tetapi ia enggan berbicara soal peluang tampil di kompetisi Eropa. Pilihan itu masuk akal: dengan skuad yang sempat menipis, membangun konsistensi jauh lebih masuk akal ketimbang memasang target tinggi. Jika Everton mampu menjaga tren tanpa kekalahan dan melangkah jauh di Piala EFL, narasi tentang klub yang hanya dikenang karena kegagalannya bisa mulai terkikis.

Bagi para pendukung, pertanyaan sebenarnya bukan apakah 31 tahun tanpa trofi itu menyakitkan — karena jawabannya jelas iya. Pertanyaan yang lebih menarik adalah apakah penderitaan itu menghapus kebahagiaan yang lahir dari hal lain: kebersamaan, kesetiaan, dan momen-momen kecil yang tetap dikenang puluhan tahun. Klub juga terus menghadirkan konten seputar Toffees lewat BBC Sounds, dari jelang pertandingan, sesudah pertandingan, hingga pembahasan bertema, agar kedekatan dengan penggemar tetap terjaga.

Kesimpulan

Perjalanan Everton sejak trofi terakhir pada 1995 memang penuh catatan pahit: peluang hilang di semifinal dan final, delapan kali tersingkir dini di Piala FA, dan rekor tandang yang jauh dari membanggakan. Namun, klub ini juga berdiri sebagai salah satu dari enam tim yang tidak pernah meninggalkan kasta teratas Premier League, dan sesekali menghadirkan momen yang layak dirayakan, seperti musim 2004-05 dan kemenangan derby pada April 2024. Kombinasi itu menjelaskan mengapa pertanyaan “derita atau perayaan” tidak punya jawaban tunggal.

Yang paling jelas dari kesaksian Osman dan France adalah bahwa nilai mendukung Everton tidak diukur semata dari jumlah trofi. Selama stadion tetap penuh, nyanyian tetap terdengar, dan para pendukung saling merangkul, perayaan itu sudah berlangsung setiap pekan. Jika suatu hari trofi benar-benar datang ke Hill Dickinson Stadium, mungkin seperti kata Osman, perayaannya akan menjadi sesuatu yang sama sekali lain.