Perjalanan Wales di Liga Nations sepanjang jendela empat pertandingan pertama jauh dari mulus, dan pelatih kepala Craig Bellamy tidak berusaha menutupinya. Ketika diminta menilai hasil awal timnya di kompetisi level tertinggi tersebut, jawabannya hanya satu kata: “Sulit.” Penilaian itu sulit dibantah karena Wales kalah di tiga dari empat laga — tumbang saat bertandang ke Portugal dan Denmark, lalu kembali menelan kekalahan dari Denmark setelah sebelumnya mencatat kemenangan menarik atas Norwegia.
Meski begitu, posisi Wales belum sepenuhnya di luar kendali. Peluang untuk tetap bertahan di League A masih ada di tangan mereka sendiri menjelang dua pertandingan terakhir bulan depan, dan itu bukan sekadar soal bertahan hidup: finis di posisi yang lebih tinggi juga akan memperbaiki seeding Wales untuk kualifikasi Euro 2028. Di balik itu, ada sederet persoalan yang melibatkan Bellamy, staf pelatih, para pemain, hingga Football Association of Wales, dan semuanya harus dicari jalan keluarnya sebelum jendela pertandingan berikutnya.
Wales di Liga Nations: Format Empat Laga yang Bikin Kewalahan
Wales kali ini menghadapi jadwal yang jarang dialami tim nasional: empat pertandingan dalam satu jendela internasional. Bellamy menyebut ide tersebut “tidak masuk akal” dan menilainya lebih menguntungkan negara-negara besar, sebagian di antaranya — seperti Jerman yang ditangani Jürgen Klopp — bahkan memanggil dua skuad berbeda untuk empat laga itu. Baginya, format seperti ini mengubah cara kerja tim secara mendasar, karena waktu yang biasanya dipakai untuk melatih taktik di lapangan justru habis oleh perjalanan dan pemulihan antarpertandingan.
Kekhawatiran Bellamy sebelum jendela pertandingan dimulai terbukti nyata. Harry Wilson dan Joe Rodon dinyatakan tidak fit bahkan sebelum bola digelindingkan, sehingga keduanya harus absen di momen yang paling tidak diinginkan. Kalau dulu cedera pemain kunci hanya membuat mereka melewatkan dua pertandingan, kini dampaknya bisa empat laga sekaligus. Masalah ini sudah terasa berat pada masa kejayaan Gareth Bale dan Aaron Ramsey, dan sekarang terasa jauh lebih berat karena kedalaman skuad Wales tidak lagi sama.
Beban itu juga terlihat pada performa di lapangan. Setelah penampilan awal yang cukup menjanjikan melawan Denmark, energi Wales menurun. “Saya merasa kami agak datar, tidak seintens yang kami inginkan. Itu memang bisa diduga setelah pertandingan yang sangat berat beberapa hari sebelumnya,” kata gelandang Jordan James. Mempertahankan intensitas tinggi yang diminta Bellamy memang sulit ketika pemain harus bertanding setiap tiga hari.
Dampaknya merembet ke luar lapangan. Cukup banyak kursi kosong pada laga Minggu malam, sesuatu yang tentu tidak diharapkan siapa pun. Sejumlah petinggi Football Association of Wales berharap tambahan pertandingan bisa menciptakan momentum, tetapi beban biaya dan perjalanan bagi penggemar tampaknya lebih kuat — dan itu akan berdampak pada pendapatan. Persoalannya, Wales tidak punya banyak pilihan selain membiasakan diri, sebab kualifikasi Euro 2028 pada September dan Oktober tahun depan akan memakai format yang sama.
Kedalaman Skuad Jadi Persoalan yang Sulit Dipecahkan
Selain jadwal, kekalahan dari Denmark membuka masalah lain yang lebih struktural, yaitu keterbatasan pemain di bangku cadangan. Mantan penyerang Wales, Iwan Roberts, mengungkapkannya dengan gamblang. “Saya melihat pemain yang masuk dari bangku cadangan; Wes Burns bermain di League One, Mark Harris bermain di League One, dan Josh Sheehan sudah bertahun-tahun bermain di League One. Itulah masalahnya: ketika sebelas pemain inti tidak berjalan, Craig Bellamy menoleh ke belakang dan — tidak nyaman untuk diucapkan — dia melihat pemain League One untuk mencari pembeda,” ujarnya.
Roberts menambahkan bahwa Wales tidak memiliki kedalaman skuad yang cukup untuk memberi dampak ketika pemain-pemain yang seharusnya menjadi pilihan utama absen karena cedera. Situasi itu makin rumit karena David Brooks, yang musim ini belum sekali pun menjadi starter di liga untuk Bournemouth, juga harus menarik diri di tengah pemusatan latihan karena cedera. Kondisi tersebut otomatis mempersempit pilihan Bellamy, terutama di sektor depan.
Contoh paling jelas terlihat pada laga melawan Denmark. Dan James, yang baru saja tampil gemilang dengan mencetak gol pembuka Wales dan memenangkan tendangan bebas yang menghasilkan gol kedua Neco Williams, sama sekali tidak dimainkan pada Minggu. Kieffer Moore juga baru dimasukkan pada menit-menit akhir, ketika tim asuhan Brian Riemer sudah unggul 1-0. Keputusan seperti itu membuat banyak pengamat mempertanyakan arah rotasi Bellamy.
Rotasi dan Pergantian Pemain yang Membingungkan Penggemar
Kritik terhadap keputusan pergantian pemain datang cepat setelah kekalahan dari Denmark. Roberts mempertanyakan mengapa Kieffer Moore baru masuk pada menit ke-83 ketika Wales sedang mengejar ketertinggalan, dan mengapa Dan James tidak dimainkan sama sekali. Sebelum laga, Bellamy memang sudah menjelaskan bahwa James belum cukup fit untuk menjadi starter, meski ia berharap pemain sayap Leeds United itu bisa tampil dari bangku cadangan.
Sebelum jendela empat pertandingan dimulai, Bellamy menyebut keinginannya menemukan “Harry Wilson berikutnya” selama pemain berusia 29 tahun itu absen. Namun pernyataan tersebut kemudian menuai kritik dari sebagian suporter, karena tidak ada pemain yang menjalani debut di jendela internasional kali ini. Sebaliknya, beberapa pemain yang performanya bersama timnas belum mencapai level yang diharapkan justru mendapat lebih banyak kesempatan.
Harry Wilson Masih Jadi Kunci Lini Depan
Tidak ada pemain yang mencetak lebih banyak gol bagi Wales sejak Bellamy menangani tim dibandingkan Harry Wilson. Ketidakhadirannya sangat terasa karena Wales gagal mencetak gol di tiga dari empat laga pembuka League A. Angka itu menunjukkan bahwa lini depan Wales saat ini masih sangat bergantung pada satu sosok yang kehilangan momen penting akibat cedera.
Mantan penyerang Wales, John Hartson, menyerukan ketenangan dari penyerang lain seperti Brennan Johnson, Kieffer Moore, dan Lewis Koumas. “Kami terburu-buru dalam mengambil keputusan. Kami perlu memperlambat sedikit, sebenarnya selalu ada waktu lebih,” kata Hartson kepada BBC Match of the Day Wales. Menurutnya, persoalannya juga menyangkut level kompetisi, karena Wales bermain di level tertinggi dengan banyak pemain yang berkarier di Championship, dan mereka harus menemukan cara untuk menyesuaikan diri.
Jika Wilson kembali dalam kondisi sepenuhnya fit, kehadirannya bisa mengubah wajah serangan Wales secara signifikan. Itu akan sangat berharga bagi Bellamy yang ingin menghindari degradasi kembali ke League B pada bulan depan.
Ethan Ampadu Naik Satu Level
Di tengah hasil yang mengecewakan, empat pertandingan ini menjadi bukti bahwa Ethan Ampadu telah mencapai level baru. Kapten Leeds United itu tampil dengan kematangan yang makin terlihat, memberi pengaruh nyata pada jalannya pertandingan dengan cara yang mungkin belum ia tunjukkan di masa lalu. Dari penampilannya, jelas bahwa ia adalah pemain yang bisa diandalkan Wales.
Penilaian positif datang dari banyak mantan pemain. “Dia melakukannya setiap pekan, delapan dari sepuluh di setiap pertandingan,” kata mantan penyerang Sam Vokes, yang juga menyoroti bagaimana penonton menyanyikan nama Ampadu di akhir pertandingan karena ia memberikan segalanya. Nathan Blake menyebutnya pemain “impian”, sementara Robert Earnshaw menilai masih ada ruang untuk berkembang.
“Masih ada level-level lain pada dirinya. Lihat Harry Wilson tahun lalu — Ethan bisa melakukan hal yang sama. Masih ada lagi yang akan datang,” ujar Earnshaw. Jika penilaian itu tepat, Ampadu berpotensi menjadi tulang punggung Wales dalam beberapa tahun ke depan.
Wales Terbukti Mampu Bersaing di Level Ini
Laga tandang ke Denmark memang malam yang suram, tetapi ada hal positif yang bisa dipetik dari pertandingan di Portugal. Kemenangan atas Norwegia juga memberi cukup alasan untuk optimistis, terutama karena sebelum jendela pertandingan ini Wales belum pernah menang di level Liga Nations tersebut. Artinya, kemampuan bersaing di League A kini bukan lagi sekadar harapan.
Menariknya, dua kekalahan Wales terjadi dengan selisih satu gol saja, dan yang terakhir lewat titik penalti setelah kesalahan yang sebenarnya bisa dihindari. Gelandang Jordan James merasakan langsung kerasnya level ini. “Kualitasnya tinggi, seperti yang kami perkirakan. Anda dihukum karena hal-hal kecil, tapi saya juga menyadari bahwa Anda bisa bermain di level ini. Kami bersaing dengan baik dan di dua laga terakhir kami benar-benar berada di dalam pertandingan,” katanya.
Masih Ada Peluang: Target Finis Ketiga
Kemenangan atas Norwegia, ditambah hasil laga lain pada Minggu, membuat Wales tetap berada di posisi ketiga menjelang pertandingan terakhir. Posisi itu bertahan berkat sistem tie-breaker yang mengutamakan hasil pertemuan langsung antartim. Wales masih akan menghadapi Norwegia di Oslo dan Portugal di Cardiff pada November, dan sebelum pemusatan latihan kali ini dimulai, Bellamy sudah menyebut finis ketiga sebagai targetnya.
Target itu bukan sekadar soal gengsi. Finis ketiga memberi Wales peluang menghindari degradasi ke League B sekaligus memperbaiki posisi mereka dalam undian kualifikasi Euro 2028, yang berarti kans tampil di turnamen besar di kandang sendiri tetap terbuka. Secara statistik, target tersebut masuk akal: dalam tiga edisi Liga Nations sebelumnya, tim yang finis ketiga di grup League A rata-rata mengumpulkan 6,42 poin dari enam pertandingan. Sebagai perbandingan, tim yang finis juru kunci grup League A rata-rata hanya mengumpulkan 2,92 poin dari enam laga. Wales saat ini sudah mengoleksi tiga poin, sehingga secara realistis mereka butuh satu kemenangan lagi, atau mungkin dua hasil imbang, untuk punya peluang finis ketiga.
Bahkan jika Wales akhirnya finis keempat, perubahan format memberi mereka jalan lain. Hanya dua tim juru kunci dengan peringkat terburuk yang turun otomatis, sementara dua tim lainnya masuk play-off melawan runner-up League B. Serbia, Turki, dan Republik Ceko sejauh ini belum mengumpulkan satu poin pun, sehingga Wales mungkin sudah melakukan cukup banyak untuk menyiapkan pertarungan dua leg pada Maret. Bosnia-Herzegovina, Ukraina, Skotlandia, dan Kosovo termasuk calon lawan yang mungkin mereka hadapi.
Kesimpulan
Jendela empat pertandingan Liga Nations memberi Wales pelajaran pahit sekaligus petunjuk jelas tentang ke mana tim ini harus melangkah. Masalah kedalaman skuad, manajemen beban pertandingan, dan ketergantungan pada Harry Wilson adalah persoalan yang perlu segera dicari solusinya jika Bellamy ingin mempertahankan tempat di League A. Di sisi lain, penampilan Ethan Ampadu dan kemenangan atas Norwegia menunjukkan bahwa fondasi tim ini sudah cukup kuat untuk bersaing di level tertinggi.
Dengan dua laga tersisa melawan Norwegia dan Portugal, peluang Wales masih terbuka dan semuanya bergantung pada hasil di lapangan. Apa pun akhirnya, jendela pertandingan ini sudah memberi gambaran yang jelas: Wales tidak bisa lagi mengandalkan keberuntungan, tetapi juga bukan tim yang pantas diremehkan di League A.
